Dan, disinilah kita. Pada hembusan nafas masing-masing,
dalam putaran fikiran sendiri-sendiri. Kita hanya bisa terpejam, memaksa lelap
menghampiri agar waktu tidak benar-benar terasa berlalu. Agar detik yang
berputar tidak terdengar menyeringai.
Tempat ini, dulu adalah tempat terhangat kita. Bahkan ketika
musim dingin, tempat kita tetap hangat, bahkan bertambah hangat. Tak ada
semilir anginpun yang melewati jamahan kita. Tapi sekarang, badaipun bebas
menari diantara raga kita yang resah. Gelisah. Mata kita tidak lagi saling
tertuju, malah kian menjauh. Sentuhan kita menghilang. Malam ini benar-benar
lengang.
Ya, disinilah kita. Menanti hari esok dimana tidak ada lagi
tempat seperti ini untuk kita. Karna esok, kita akan terpisah. Berpisah.
Terasakah peluk yang kutahankan, sayang? Bisakah berbalik sejenak? Aku ingin
memelukmu, sekali ini saja. Seperti pertama kali kita lakukan dengan malu yang
kita sembunyikan. Sekali ini saja, kecup aku ditempat bibirmu biasa mendaratkan
rindu. Karna esok, kita tidak lagi bisa menyapa rindu. Malam ini saja, sayang.
Esok, kita tidak lagi bersatu. Sayang.