Sabtu, 22 Juni 2013

Peluk

Aku mulai menyangsikan bahwa peluk akan menghangatkan. Terbukti sekarang. Pertama kalinya, aku tak ingin melepaskan. Dan untuk terakhir kalinya, aku tak ingin melepaskan.

Kita terdiam. Namun waktu tak juga berhenti seperti yang kuharapkan. Detak jantung kita masing-masing terdengar. Jelas sesakku bisa kau rasa. Pelukan kita lebih erat daripada biasanya.

Kita masih diam. Dan aku sangat tahu kau mulai lelah;untuk melingkari lenganmu mendekap tubuhku. Untuk tetap berdiri, menahan agar aku tak jatuh. Untuk memberikan aku waktu memilikimu hingga detik akhir hari ini.

Aku mulai terisak. Kenangan dan angan-angan kita mulai berteriak hingga aku seperti tuli. Tak ingin mendengar bahwa kau akan berkata selamat tinggal.

Kau masih berusaha tetap memelukku. Dan aku tetap tak ingin melepaskannya. Walau nanti kita akan tetap bertemu, tapi seperti yang kita tahu, kita tak lagi adalah satu. Kau tak lagi akan mengingatku sebagai orang yang tak pernah ingin kau lupakan. Dan aku harus mulai mengingatmu sebagai orang yang harus kulupakan.

Setetes air jatuh di bahumu. Bukan karna tangisku yang sudah membanjir. Tapi karna langit mulai gerimis. Langit ikut mendung. Sepasang kekasih, dua ciptaan Tuhan dengan cinta di antara mereka, memilih berpisah karna tak sama dalam menyebut namaNya.

Kau mulai merenggangkan lengan. Memundurkan dirimu perlahan. Aku masih tetap diam. Enggan melepaskan pelukan ini. Sangat enggan melepaskanmu.

Kau beranjak pergi. Tanpa berkata apa- apa. Tanpa menatapku berlama-lama. Kita kehabisan kata. Selamat tinggal menutup segalanya.


Adakah yang lebih dingin dan menusuk daripada angin malam ini? Ada. Pelukan kita.

Kamis, 20 Juni 2013

Maaf

hanya orang buta yang tidak bisa melihat betapa cantiknya kamu. caramu bicara tidak hanya menyejukkan telinga, tapi juga mencerminkan pintarnya otakmu menyeleksi kata. bahkan untuk sekedar menjadi canda. tawamu yang terselip diantaranya, membuatku jatuh cinta.

aku tidak tahu harus mensyukuri ini atau bagaimana. bertemu denganmu, aku seperti mencium bau harum yang memikat. jika ada yang bertanya apakah denganmu aku bahagia? jawabnya tentu iya. sayangnya, tidak ada yang mempertanyakan itu selain kamu.

semua terjadi diluar kuasaku. sebelumnya aku akan menegaskan, ini bukan salahmu, ini karna kegoyahan dan kebohonganku yang merahasiakan segalanya. tentang hubungan kita terhadap siapa pun. tentang wanita lain yang kucintai selain kamu.

dia, istriku. aku merasa kehilangan sosoknya sejak kami mempunyai anak. dia lebih peduli pada anak kami dan mengabaikan aku. dia mulai jarang berdandan, bahkan untuk sekedar memakai wewangian. dia mulai mengenyampingkan makanan kesukaanku, hanya untuk menyiapkan bubur anak kami. aku merasa tersaingi. saat itu kamu datang. menyuap hidupku untuk tertawa terbahak. di mataku kamu mendekati sempurna hingga aku buta. hingga tidak bisa melihat bahwa aku terlalu egois karna terlalu mencintai istriku. terlalu ingin aku jadi yang satu-satunya. padahal, lewat anak kamilah, kami berdua menyatu.

terlambat untuk menyadari bahwa yang aku lakukan ini salah. tapi kurasa, belum terlambat jika harus mengakhiri ini. istriku tidak pernah berubah. aku saja yang belum siap menerima keadaan seperti ini. kemarin, dia memperbaiki segalanya tanpa harus merubah apa pun yang ada. aku tak ingin salah terlalu jauh dengan terus mengkhianatinya dan membuatmu lebih dalam mencintaiku.

silakan sebut aku lelaki jahat. aku pantas mendapatkannya. makanya, aku ingin memperbaiki segalanya dengan meninggalkanmu dan melanjutkan rumah tanggaku.

maaf.

Ada

ada, cinta yang tidak pernah mengkhianatimu walau kau bukan satu-satunya yang dia punya. ada, hati yang selalu utuh walau semakin lama semakin rapuh. walau telah kau patahkan berkali-kali.
ada, kepercayaan yang kembali lagi walau telah kau bohongi tidak hanya sekali dua kali. ada, senyum bahagia dan rasa syukur tak terkira ketika tahu kau bisa berdiri dan berjalan sendiri, bisa membaca dan melakukan hal yang baik.
ada, air mata yang mengalir tanpa henti walau telah diseka. entah karena kau melukainya hingga terasa perih, atau karna kau membuat bahagia yang terlalu.
ada, do'a yang terucap tanpa henti, ketika kau bahkan tidak meminta itu.
ada, akan kau temukan pada mereka, yang kau sebut orang tua.