Senin, 07 Desember 2015

Sederhananya

Sederhananya
Hatinya adalah kursi
Kau adalah yang duduk di atasnya

Jangan lupa
Bisa jadi
Kau sedang duduk bersama orang lain
Tanpa kau sadari

Atau
Kapan pun ia mau
Ia bisa menarik kursi yang engkau duduki
Entah untuk dikosongkan
Atau untuk dipersembahkan kepada orang lain

Atau bisa juga
Engkaulah
Satu-satunya

Selasa, 01 Desember 2015

Kami yang lalu

Kami tidak sengaja bertemu
Lalu tanpa sadar saling tertarik
Kami semakin dekat
Lalu sadar ada yang salah
Kami memilih menjauh
Lalu kembali pada kekasih masing-masing

Jumat, 27 November 2015

Puisi

Tiap kata dalam puisi adalah kebenaran
Sebab ia lahir dari hati penyair;
yang setengah mati
yang sudah mati
yang pernah hidup
di hati kekasihnya

Kamis, 26 November 2015

Perihal semalam

Tak ada jam melingkar di lenganku
Kuhitung waktu yang berjalan terasa lambat
pada layar ponsel dengan tema polos berwarna biru
Beberapa pesan terbaca di sana
Tapi tak ada satu pun yang darimu

Angka-angka penunjuk jam silih berganti
Teratur seperti bocah yang baru belajar berhitung
Yang ujung-ujungnya kembali lagi pada angka satu
Pesanmu masih tak muncul
Pikiranku semakin resah
Apa yang sedang kau pikirkan saat ini
Masih tersisakah emosi semalam

Senin, 19 Oktober 2015

Aku tak sengaja pergi agar kau cari
Tak pula sengaja hilang agar kau temukan
Aku hanya ingin memastikan diri
Di bagian mana pada dirimu
Sebenarnya aku berada

Sabtu, 19 September 2015

Seperti aku

Suatu hari nanti, ketika kau pada akhirnya merasa bahwa;
Cinta saja sudah tak cukup
Rindu menunjukkan jenuhnya
Kata-kata tak lagi mampu mengatasi
Berbicara sambil menatap mata dan menggenggam tangan itu perlu
Pelukan adalah apa yang melingkar di tubuhmu

Aku hanya berharap, kau menghadapinya seperti aku.

Selasa, 15 September 2015

Cerita sore kemarin

'Sudah sekian tahun sejak hari itu, apa aku masih boleh bertanya?'

'Tanya saja, aku akan jawan sebisaku'

'Jadi, bagaimana perasaanmu sekarang?'

'Perasaanku sekarang? Perasaanku perihal apa?'

Aku menghela nafas, 'kukira kamu mengerti'

'Sudah bukan jamannya lagi peka-pekaan. Untuk apa ada mulut kalau tidak menjelaskan'

'Iya, iya. Perasaanmu terhadap dia, bagaimana?'

'Dia yang mana? Ada banyak 'dia' di dalam hidupku' jawabmu sambil tertawa.

'Mesti kusebut namanya?' Tanyaku ketus.

'Hehehe. Tidak usah. Tapi, apa tadi pertanyaannya?'

'Telinga itu ada, untuk mendengar. Ngerti?'

'Hehehe. Iya, iya'

Kuhela nafas, lagi. 'Pastinya bukan hanya aku saja yang punya pertanyaan seperti ini. Anggap saja aku adalah perwakilan dari khalayak di luar sana. Jadi, apa yang kamu rasakan ketika tahu dia akan menikah?'

'Aku sudah tahu kalau ini yang kamu dan khalayak ramai itu pertanyakan. Perasaanku waktu itu, menurutmu, jika kamu jadi aku, akan bagaimana rasanya?'

'Berhenti bertele-tele. Pernahkah pipimu dipukul pakai cangkul?'

'Hahaha. Kejam. Perasaanku waktu itu, ya, aku ikut bahagia untuknya'

'Sungguhkah?'

'Iya. Aku tahu, banyak yang akan berpikir bahwa aku akan menyesal karna pada akhirnya dia menikah lebih dulu. Tapi, mereka tidak berpikir kenapa pada akhirnya, aku mengambil keputusan untuk tak meneruskan hubungan kami'

'Kenapa tak diteruskan saja? Apa yang terjadi pada cinta kalian?'

'Belakangan aku merasa, ada yang salah dengan cara kami mencintai. Aku tak ingin membiarkan dia terjebak terlalu jauh di dalam aku yang sepertinya tak bisa jadi apa yang dia harapkan. Pastinya, aku mengambil keputusan ini dengan dipikirkan secara baik-baik. Aku tak bisa jelaskan lebih rinci. Karna, kamu tahu, lah, itu sudah termasuk privasi'

Lagi, untuk kesekian kalinya, aku menghela nafas. 'Ya, kalau memang begitu adanya. Mungkin benar itu adalah jalan yang paling baik. Jika masih denganmu, mungkin saja dia tak sebahagia sekarang' ucapku sambil tertawa.

'Hahaha, sialan kamu. Sekarang giliranku, perasaanmu sendiri, sekarang bagaimana?'

'Perasaanku? Jangan kamu cari tahu, bisa-bisa kamu tersesat dan tak tahu arah jalan pulang'

'Kalau tersesatnya di hatimu, aku mau'

Lalu tawa kita memecah senja hari ini.

Sabtu, 27 Juni 2015

Mari Kita Lihat

Mari kita lihat, apa kira-kira yang sudah kita dapat dari hubungan ini.

Dimulai dari aku yang;
Selalu kau nasihati, tanpa menggurui
Selalu kau beri masukan, tanpa mendikte
Selalu kau tuntun, tanpa menuntut
Selalu kau arahkan, tanpa memaksa

Lalu, yang kau dapat dari aku yang;
Cuma bisa melakukan kecerobohan berulang
Cuma bisa ngomel tentang apa-apa yang aku tak ingin kau lakukan
Cuma bisa memberi perhatian yang itu-itu saja
Cuma bisa memaksamu melakukan hal bodoh yang aku inginkan

Itulah yang kita dapat. Aku mendapat banyak dari yang kau beri. Tapi sebaliknya, dariku, kau tak dapat apa-apa. Mungkin akan memakan waktu, tapi selalu kuusahakan yang terbaik yang bisa kuberi untukmu.

Jumat, 05 Juni 2015

Menetaplah

Aku pernah, membandingkan diriku dengan mereka yang pernah lebih dulu kamu cintai. Semakin dipikirkan, semakin ciut nyaliku. Rasanya, dibanding mereka, aku tak ada apa-apanya. Tak pula lebih cantik, lebih pintar, atau lebih apa pun.

Ketika kubilang bahwa aku berusaha melakukan yang terbaik yang aku bisa, aku sungguh melakukannya. Lalu aku bertanya sendiri, apakah ini cukup untukmu? Apakah itu cukup untuk tetap mengadakan kita? Entahlah.

Hanya saja, yang perlu kamu tahu, dibanding mereka yang dulu di hatiku pernah singgah, kamu adalah hati yang paling kusyukuri karna telah memilikinya. Maka, jangan hanya singgah. Menetaplah.

Sabtu, 23 Mei 2015

Nikmati Saja

Aku berhenti bertanya-tanya
sebesar apa cinta yang kau punya.
Aku berhenti mengira-ngira
sesering apa, aku, kau pikirkan.
Biar kau nikmati saja cintaku yang bertubi-tubi.
Hingga kau rasa bosan
hingga kau rasa enggan.
Nikmati saja.
Hingga kurasa cukup.

Jumat, 15 Mei 2015

Tapi

Tapi, dia tidak tahu kalau ketika aku bilang aku mencintainya, itu tak sepenuhnya seperti yang aku bilang.
Dia juga tidak tahu kalau, ketika aku merindukannya, rindu itu tak hanya untuk dia seorang.
Dia juga tidak pernah tahu ini, kalau do'a-do'a yang kupanjatkan, tak melulu untuk kebaikannya.

Bahwa, aku mencintainya lebih penuh dari yang kukatakan.
Bahwa, selain dia, ada mama dan suasana rumahnya yang kurindukan.
Bahwa, do'aku adalah untuk keseluruhan kami. Apa pun yang ada di hidupku, apa pun yang ada di hidupnya.

(a.p)

Rabu, 06 Mei 2015

Apa Pun Itu

Apa pun itu;seribet apa pun aku, sebawel apa pun aku, sekekanak-kanakan apa pun aku, sesibuk apa pun kamu, sedewasa apa pun kamu, seserius apa pun kamu;tidak lain, aku hanya ingin ini semua berakhir seperti apa yang aku do'akan. Dan semoga kau juga begitu.

Sabtu, 25 April 2015

Teruntuk Hati yang Mengutuhkan Aku

Tak cuma kalian, aku bahkan tak menyadari bisa jadi seperti ini. Jangan juga tanya mengapa, aku tak punya 'karena' yang tepat untuk menjelaskan.

Yang kutahu,

Pertama kali menatap wajahnya, aku tersenyum. Bukan malu, tapi lega. Akhirnya dapat kuperhatikan dengan dalam bagaimana air mukanya dalam segala rupa.
Pertama kali bergenggam tangan dengannya, tak ada ragu. Seolah siap dibawa kemana pun bersamanya.
Pertama kali berlarian di bawah hujan, aku bagai tak perduli jika badai sekali pun, asal dengan dia.
Pertama kali menghabiskan waktu dalam perjalanan jauh dan bersandar di bahunya, lelahku hilang.
Pertama kali makan bersamanya, aku tak malu mau tambah berapa piring pun.
Pertama kali berdiri satu shaf di belakangnya, mengikuti gerak sholatnya sebagai imam.
Pertama kali didekapnya, aku tenggelam. Badanku mungil sekali. Tapi di sanalah segala rindu bermuara.
Pertama kali, kecupan sebelum tidur mendarat di keningku. Aku jadi tak sabar menunggu malam-malam berikutnya.
Pertama kali, melihatnya marah dan membuatku terdiam. Tapi untungnya, ada jurus terjitu agar dia baik kembali.
Pertama kali, aku jadi salah satu bagian dalam hidupnya. Ada mama yang lucu, yang disayanginya melebihi apa pun.
Pertama kali, iya. Semua serba pertama.

Apa pun yang kalian fikir, kalian tak akan bisa mengerti bagaimana rasanya. Bersyukurnya aku dipertemukan dengannya. Semoga semua ini sampai pada apa yang aku -dan semoga juga dia- do'akan.

Teruntuk hati yang mengutuhkan aku, tentu selalu kau tahu, aku mencintaimu.

(a.p)

Jumat, 24 April 2015

Karna tak satu pun dari kita yang benar-benar tahu, sekali pun telah mengira-ngira, bagaimana seseorang mencintai kekasihnya. Karna yang terlihat, yang diperlihatkan, belum tentu seperti kelihatannya.
Karna yang terdengar, yang diucapkan, tak berarti adalah yang sebenarnya.
Iya, tak satu pun dari kita yang tahu bagaimana seseorang mencintai kekasihnya. Termasuk, kekasih kita masing-masing.

Minggu, 12 April 2015

Perihal Takdir

Dari yang kutahu, bahwa perihal takdir, seseorang dapat mengubahnya, memintanya. Pun katamu, takdir itu tergantung diri sendiri. Lantas, jika takdir yang ingin kutentukan adalah menjadi yang kau cintai tanpa ada selain, bagaimana denganmu?

Sabtu, 11 April 2015

Isi Kepala

Aku mulai muak dengan isi kepala ini. Dari saban hari tak henti-hentinya bertanya. Dari hal sederhana sampai rumit. Dengan pertanyaan yang berbeda, juga dengan yang itu-itu saja. Bukan tak dicari jawabannya. Tapi semakin dijawab sendiri, semakin lain pertanyaan yang timbul.

Mau kepala ini diganti. Entah dengan kepala sapi, kambing, ayam, atau barbie sekalian biar jadi lebih cantik.

Dialihkan pun pikiran, isi kepala ini akan kembali lagi kepertanyaan-pertanyaan macam tadi. Telinga sendiri bosan mendengarnya. Hati lelah ikut membantu menjawabnya.

Atau, coba kuganti dengan isi kepalamu, siapa tahu di sanalah kutemukan jawabannya. Lalu setelah itu, kecup sedikit dahi di kepalaku. Mungkin juga itu bisa membuatku sedikit lebih tenang.

Selasa, 10 Februari 2015

Terjebak

Dan ujung-ujungnya, akan tetap ada pertanyaan 'kita ini apa?'. Mau dipungkiri berkali-kali, mau pura-pura tidak tahu, tetap akan dimintai jawabannya. Cepat atau lambat, aku atau kamu;tapi kurasa kamu tidak.

Kita tak sebut ini cinta, tapi yang kita lakukan malah menunjukkan itu. Kita tak bilang hubungan ini dengan sebutan tertentu, tapi jika dirasa-rasa lagi kita seperti itu.

Kita terjebak. Terlambat jika ingin disesali, juga tak mampu jika menghentikan ini sama sekali.

Kita pengecut, karna tak berani mengiyakan yang kita rasa. Tapi kita juga berani, karna merasakan sesuatu yang tidak pada tempatnya.

Andai waktu berpihak pada air mataku, kita bisa saja lebih bahagia dari ini. Tapi bisa juga tidak.

Kamis, 05 Februari 2015

Jalan di luar begitu ramai. Klakson tanda tak sabar berteriak dari ujung jalan sana hingga jalan sini. Suara-suara orang lain di dalam cafe ini pun tak kalah bisingnya. Tapi kurasa, kami tuli terhadap mereka. Yang lebih jelas terdengar hanya detik pada jam tangan masing-masing. Juga angin yang sesekali bertiup dan menggoyangkan rambutnya.
Aku menatapnya tanpa lepas. Dia hanya tertunduk tanpa mengucap apa pun. Andai kami adalah dua yang bisu, keadaan takkan jadi semenyesakkan ini.
Aku menghela nafas, dia masih juga diam. Ada banyak sekali pertanyaan yang  mendesak ingin keluar dari kepalaku. Tapi sungguh, aku tak ingin jadi si pemaksa yang tak dia suka.
"Adakah yang ingin kamu katakan?", tanyaku dengan tenang seolah keadaan baik-baik saja.

***

Suasana tak seperti biasanya. Seramai apa pun di sini, aku merasa hanya berdua dengannya. Bukan karna kami sedang jatuh cinta, tapi ada yang tak lagi sama dalam cara kami mencintai. Entah hanya jenuh atau telah hilang sama sekali. Aku ragu pada diri sendiri. Ragu untuk berani menatap matanya.
Aku tak juga mengangkat wajah meski tahu dia berusaha sembunyikan gelisahnya. Karna jika melihat matanya, aku akan sadar betapa salahnya aku. Betapa aku tak bisa jadi yang terbaik untuknya.
Aku tetap menundukkan wajah. Tak siap menjawab pertanyaan-pertanyaan yang, aku yakin, sudah memenuhi isi kepalanya.
"Adakah yang ingin kamu katakan?", tanyanya dengan nada bicara paling tenang.
Aku menarik nafas dalam-dalam. Bibirku bergetar. Sulit menjujurkan ini padanya. Tapi akan lebih sulit bagi kami jika aku terus  berbohong.
"Apa pun yang terjadi setelah ini, percayalah, kamu nggak ngelakuin kesalahan apa pun. Kamu nggak pernah bikin aku kecewa. Kami baik. Malah sangat". Jawabku dengan memberanikan diri menatap matanya. "Maafkan aku. Entah sejak kapan, tapi yang terasa di hatiku sudah nggak sama seperti pertama kita memulai ini. Jangan tanya alasannya, aku bahkan nggak tau kenapa ini terjadi. Maafkan aku". Mataku mendung.

***

Kalimat pertamanya membuatku makin bertanya. Benarkah yang kutanyakan selama ini pada diriku sendiri? Bahwa tak ada lagi cinta di antara kami. Bahwa tak ada lagi cinta di hatinya.
Dia terus bicara. Aku sudah tak ingin dengar penjelasannya. Andai bisa pergi dari sini sekarang, aku akan berlari dan berteriak di luar sana. Entah untuk apa, tapi rasa sakit ini tak bisa kutahan sendiri.
"Jangan minta maaf", batinku. Semakin sakit ketika tahu bahwa benar, dia telah menghilangkannya. Segala yang kami mulai dari awal.
Matanya berkaca-kaca. Aku tahu tak hanya aku yang merasakan sakit di sini. Tapi jika saja dia tahu, aku tak hanya sakit, tapi hancur.
"Kalau menurutmu ini yang terbaik untuk kita, untuk kamu, apa pun yang terjadi setelah ini, aku akan jadi orang yang selalu bisa kamu andalkan". Ucapku tanpa emosi sama sekali. "Kalau begitu aku pulang duluan, ya. Kamu hati-hati di jalan". Aku berjalan meninggalkannya yang duduk mematung.

***

Aku benci perasaan seperti ini. Aku jahat. Tapi tak lebih baik jika ini diteruskan.
Dia selalu saja sabar, bahkan dapat dengan tenang menahan rasa sakitnya. Aku ingin menangis, andai aku tak tahu malu. Dia beranjak pergi. Punggungnya meninggalkanku yang masih mematung karna semua berakhir begitu cepat. Secepat cinta ini hilang tanpa aku sempat menyadari, agar dapat memperbaikinya.

Selasa, 27 Januari 2015

Untuk Seseorang Yang Pernah Kusebut Kekasih

Kami berdiri berhadapan. Jalan di antara kami begitu lengang. Tak ada yang lewat untuk sekedar memalingkan pandangan. Kami hanya mematung. Tak pula memberi senyum, apa lagi menyapa.

Aku menatapnya dalam-dalam. Mata itu masih sama seperti pertama kali aku melihatnya. Masih sama seperti ketika dia meyakinkan aku untuk mengiyakan pintanya. Masih sama sorot matanya seperti ketika dia dengan tega memutuskan untuk pergi. Bahkan meski mataku berair.

Kami tetap mematung. Masih bisa kubayangkan bagaimana lekuk matanya jika dia tertawa. Adalah hal menyenangkan ketika itu;saat aku dan dia adalah satu-satunya untuk masing-masing, saat aku begitu yakin bahwa dengannya aku siap bersusah-senang. Tapi semesta tak berpihak pada kami. Meski kuperjuangkan dengan cara apa pun, dia tak akan bertahan jika memang ingin lepas. Jika memang sudah tak lagi aku yang jadi satu-satunya.

Apa aku merindukannya? Tentu, hanya tak selalu. Sesekali aku teringat padanya dan segala hal yang membahagiakan dulu. Aku merindukannya, tapi tak berarti ingin kembali. Bahkan jika diberikan kesempatan untuk mengubah masa lalu, kembali padanya tak akan ada di dalam daftar. Ada kenyataan-kenyataan yang hadir belakangan untuk membuka mataku bahwa, melepaskannya adalah hal terbaik yang pernah kulakukan untuk kami. Bahwa dalam hidup, ada beberapa hal yang walau kau begitu menginginkannya, akan baik untukmu jika itu tak termiliki.

Aku berjalan meninggalkan pandangannya. Entah dengannya, tapi aku tak pernah merasa selega ini.

Untuk seseorang yang pernah kusebut sebagai kekasih, terimakasih karna waktu itu meninggalkanku dan tak mengiyakanku untuk kembali. Karna jika tak begitu, mungkin aku tak akan sebahagia ini, tak akan sebersyukur ini. Terimakasih.

Minggu, 04 Januari 2015

Satu Titik Henti

Dan kita akan selalu sampai di sini. Pada akhir yang tak berujung. Pada rindu yang tak pernah tuntas. Meski kembali lagi sekalipun, kita akan berhenti di tempat ini. Di tempat kita berdiri masing-masing. Dengan segala rahasia yang kita simpan baik-baik. Dengan segala cinta yang kita bagi, tapi bukan hanya kepada masing-masing. Kita akan tetap berhenti di sini, meski begitu ingin kembali.

Sabtu, 03 Januari 2015

Kita (?)

Kita ..

Mungkin dua hati yang saling cinta, tapi mungkin juga tak benar-benar begitu.
Mungkin sepasang yang selalu berbagi hanya karna tak ingin merasa sepi.
Mungkin orang lain yang kebetulan bertemu karna-seperti katamu-dunia berkonspirasi mempertemukan kita.
Mungkin bocah-bocah yang hanya suka tertawa tanpa memikirkan hal lain, mungkin juga si dewasa yang takut terluka lalu menangis.
Mungkin dua yang paling jujur ketika tanpa sadar saling membohongi.
Mungkin sekumpulan mimpi yang tetap merasa bahagia meski tahu kenyataan itu jauh.
Mungkin do'a-do'a yang terus diucapkan walau hanya akan sampai di ujung langit.
Mungkin dua orang yang merasa satu, padahal tahu bahwa bersama pun tak mungkin.

..?