Tak cuma kalian, aku bahkan tak menyadari bisa jadi seperti ini. Jangan juga tanya mengapa, aku tak punya 'karena' yang tepat untuk menjelaskan.
Yang kutahu,
Pertama kali menatap wajahnya, aku tersenyum. Bukan malu, tapi lega. Akhirnya dapat kuperhatikan dengan dalam bagaimana air mukanya dalam segala rupa.
Pertama kali bergenggam tangan dengannya, tak ada ragu. Seolah siap dibawa kemana pun bersamanya.
Pertama kali berlarian di bawah hujan, aku bagai tak perduli jika badai sekali pun, asal dengan dia.
Pertama kali menghabiskan waktu dalam perjalanan jauh dan bersandar di bahunya, lelahku hilang.
Pertama kali makan bersamanya, aku tak malu mau tambah berapa piring pun.
Pertama kali berdiri satu shaf di belakangnya, mengikuti gerak sholatnya sebagai imam.
Pertama kali didekapnya, aku tenggelam. Badanku mungil sekali. Tapi di sanalah segala rindu bermuara.
Pertama kali, kecupan sebelum tidur mendarat di keningku. Aku jadi tak sabar menunggu malam-malam berikutnya.
Pertama kali, melihatnya marah dan membuatku terdiam. Tapi untungnya, ada jurus terjitu agar dia baik kembali.
Pertama kali, aku jadi salah satu bagian dalam hidupnya. Ada mama yang lucu, yang disayanginya melebihi apa pun.
Pertama kali, iya. Semua serba pertama.
Apa pun yang kalian fikir, kalian tak akan bisa mengerti bagaimana rasanya. Bersyukurnya aku dipertemukan dengannya. Semoga semua ini sampai pada apa yang aku -dan semoga juga dia- do'akan.
Teruntuk hati yang mengutuhkan aku, tentu selalu kau tahu, aku mencintaimu.
(a.p)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar