Rabu, 22 Mei 2013

Di Sudut Jendela

hai, rin.
apa kabarmu? ah, ini sangat terasa basa-basi. tapi, aku selalu gagap kalau berbicara denganmu, sekali pun lewat surat ini. hanya saja, aku pandai menyembunyikannya hingga kamu tidak menyadari. hingga aku mengatakan soal itu. aku tidak tahu kata baik seperti apa lagi untuk meneruskan ini. bukannya tak punya kosa  kata, tapi keadaanku sedang tidak bisa berpikir tentang hal yang baik.

boleh aku bertanya? aku ini, kamu anggap apa? kamu tidak harus menjawabnya dengan membalas surat ini atau pun mengatakannya langsung. cukup kamu jawab sendiri untuk dirimu sendiri. itu pun jika kamu mau. aku, hanya ingin mengatakan sesuatu. yang selama ini hanya hati dan pikiranku yang tahu. aku tidak tahu kamu menamai hubungan kita ini apa. kalau kamu sebut ini sahabat, maka aku adalah sahabat yang lancang karna mencintaimu diam-diam. kalau kamu anggap ini lebih dari itu, lantas kenapa aku selalu merasa ada batas untuk bisa memilikimu secara utuh.

apa barusan aku bilang bahwa aku mencintaimu? ah, lihat kelancanganku barusan. tapi, aku sudah lelah menahn sendiri perasaan ini. mugnkin memang tidak terbalas, bahkan aku tidak lagi berharap. sekali lagi, aku hanya ingin kamu tahu, tidak lebih.

surat ini, kuselipkan di sudut jendelamu. aku ingat kamu pernah bilang, ketika ingin melupakan seseorang, kamu akan membuang bayangnya dengan menangis sejadi-jadinya di jendela ini. dan aku, ingin memposisikan diriku menjadi orang itu. mungkin bukan kamu lupakan sebagai orang yang kamu cinta, tetapi sebagai orang yang mencintaimu.

aku telah sampai di ujung muara. tempat segala ceritaku berakhir, dan ceritamu akan dimulai.

selamat untuk pernikahanmu hari ini. aku percaya, yang mendampingimu pastilah orang yang baik. bagaimana aku bisa tahu? jawabannya sederhana, karna dia mendampingimu, orang terbaik yang pernah dicptakan Tuhan, bagiku. maaf aku tidak bisa datang. tidak ingin datang sebenarnya. ada luka yang tidak bisa kusembunyikan kalau harus menjadi saksi bahwa orang yang aku cinta, akan hidup bersama orang lain.

dari jauh, do'aku selalu bersedia memelukmu. untuk jadi pelindung walau kamu sudah sangat terjaga. untuk menjadi penyumbang bahagia walau bahagiamu sudah berlimpah.

ketika surat ini sudah kamu baca, jadikan aku sebagai orang yang kamu lupakan. maka dengan mudah, kamu akan kurela.


"bodoh. kenapa baru sekarang. bodoh! bagaimana bisa aku melupakanmu. bodoh!", teriakku dalam hati dengan tangis terisak.