Kami berdiri berhadapan. Jalan di antara kami begitu lengang. Tak ada yang lewat untuk sekedar memalingkan pandangan. Kami hanya mematung. Tak pula memberi senyum, apa lagi menyapa.
Aku menatapnya dalam-dalam. Mata itu masih sama seperti pertama kali aku melihatnya. Masih sama seperti ketika dia meyakinkan aku untuk mengiyakan pintanya. Masih sama sorot matanya seperti ketika dia dengan tega memutuskan untuk pergi. Bahkan meski mataku berair.
Kami tetap mematung. Masih bisa kubayangkan bagaimana lekuk matanya jika dia tertawa. Adalah hal menyenangkan ketika itu;saat aku dan dia adalah satu-satunya untuk masing-masing, saat aku begitu yakin bahwa dengannya aku siap bersusah-senang. Tapi semesta tak berpihak pada kami. Meski kuperjuangkan dengan cara apa pun, dia tak akan bertahan jika memang ingin lepas. Jika memang sudah tak lagi aku yang jadi satu-satunya.
Apa aku merindukannya? Tentu, hanya tak selalu. Sesekali aku teringat padanya dan segala hal yang membahagiakan dulu. Aku merindukannya, tapi tak berarti ingin kembali. Bahkan jika diberikan kesempatan untuk mengubah masa lalu, kembali padanya tak akan ada di dalam daftar. Ada kenyataan-kenyataan yang hadir belakangan untuk membuka mataku bahwa, melepaskannya adalah hal terbaik yang pernah kulakukan untuk kami. Bahwa dalam hidup, ada beberapa hal yang walau kau begitu menginginkannya, akan baik untukmu jika itu tak termiliki.
Aku berjalan meninggalkan pandangannya. Entah dengannya, tapi aku tak pernah merasa selega ini.
Untuk seseorang yang pernah kusebut sebagai kekasih, terimakasih karna waktu itu meninggalkanku dan tak mengiyakanku untuk kembali. Karna jika tak begitu, mungkin aku tak akan sebahagia ini, tak akan sebersyukur ini. Terimakasih.