Rabu, 25 Januari 2012

seperti akukah cintamu, sayang?

aku hanya bisa menangis waktu kamu bilang bahwa kamu dan mantan pacarmu tidak sengaja bertemu hingga akhirnya sedikit menghabiskan waktu dari siang hingga nyaris larut. tahukah kamu? sudah kubaca semua pesan singkat kalian yang lupa kamu hapus. ya, aku sudah bisa pastikan apa yang akan kamu jadikan alasan. ingatkah sayang? bukan kali pertama ini terjadi dan sudah yang kesekian kalinya kumaafkan.

suatu hari kamu marah besar lantaran melihatku bersama seorang teman lelaki yang juga kamu kenal. dengan tegas kamu menghakimi aku berselingkuh, dengan sabar aku yakinkan kamu bahwa ini hanya pertemuan yang benar-benar tidak disengaja. padahal, aku sudah berkali-kali menghubungimu untuk memberitahu apa yang sedang aku lakukan. tentu agar kamu tidak salah paham dan karna memang aku akan selalu berbagi kabar denganmu, sekalipun kamu tidak. tapi kamu kemana? ponselmu mati. dan yang aku tahu dari orang dikantormu, kamu keluar dengan seorang wanita cantik yang menungguimu bahkan sebelum jam makan siang dimulai. siapa dia? ketika aku tanyakan itu kamu malah lebih marah dan mengakhiri hubungan kita. lalu aku, memohon dengan iba padamu untuk tidak mengakhiri ini atas kesalahanku yang tidak ada, atas ketidakjujuranmu yang kesekian, atas cintaku yang akan tetap tidak berubah. seperti akukah cintamu, sayang?

sesekali keadaan membaik. kamu bersikap dengan penuh kasih, nyaris seperti aku yang mencintaimu. membuatku menyalahi diri sendiri karna sempat meragukanmu.

tapi, baru saja yakin bahwa aku salah, kamu langsung membuatku lebih yakin bahwa, aku salah dengan keyakinanku barusan. yah, here we are. aku dan rasa lelah yang seharian berkutat dengan uang-uang yang serinya sudah tak menentu, harus dipaksa lebih lelah melihatmu bercengkrama dengan wanita di cafe tempat pertama kita jatuh cinta. ingatkah sayang? disana, kita jatuh cinta.

tanpa pikir panjang, kuparkirkan mobil tepat disebelah mobilmu. berjalan lunglai memasuki rasa sakitku dan berdiri dihadapan kalian. kamu tersentak, wanita itu tertunduk. seperti biasa, kamu akan mulai bersandiwara, dengan alasan dan maaf yang sudah hambar untuk kudengar. sayang, aku kesini bukan untuk penjelasanmu, tapi untuk pertanyaan dan pernyataanku. “seperti akukah cintamu, sayang?” kuhapus air mata dan sebisa mungkin bertutur dengan penuh kasih menahan emosi. kamu hanya diam, dan sepertinya menyesal. tapi bukankah sesal selalu datang belakangan, sayang? dan kamu sudah terlambat. benar-benar terlambat. “ternyata kita benar-benar berbeda, khususnya pada cinta. mungkin, kalian yang akan sama. aku pergi”. kutinggalkan cerita akhir ditempat pertama kita jatuh cinta. berjalan tanpa berbalik sekalipun kamu berteriak meminta maaf dan penyesalan untuk kembali. cintamu takkan pernah bisa seperti aku, sayang.

Senin, 09 Januari 2012

aku bilang ...

mereka bilang menggunakan bahasa asing untuk menyatakan cinta, itu sangat romantis. aku bilang, kegugupan saat kamu menyatakan cinta padaku itu lebih romantis.
mereka bilang bunga dan segala hal yang berkilau adalah pemberian yang indah. aku bilang hatimu itu, yang diberikan padaku jauh lebih indah dari berkilau.
mereka bilang kejutan-kejutan selalu bisa membuat kesan indah. aku bilang sifat cuek tapi pedulimu lebih punya makna.
mereka bilang makan malam ditempat mahal yang disewa hanya untuk berdua itu sesuatu. aku bilang hujan-hujanan nyari bakso dan patungan buat ngisi bensin itu maha sesuatu.
mereka bilang liburan keluar negri berdua itu fantastik. aku bilang menghabiskan libur dengan melakukan hal konyol bersamamu itu super duper.
mereka bilang punya pasangan tampan dan bergelimangan itu kebanggan. aku bilang punya pasangan sepertimu bukan hanya kebahagiaan, tapi anugerah.

kita (pernah)

kita ada.
kita terbangun dipagi hari dalam waktu yang nyaris bersamaan ditempat yang berbeda. kita menghabiskan waktu seharian dengan mengirimi pesan-pesan singkat yang bahasannya tidak pernah ada habisnya. kita juga membunuh waktu hingga larut pun kalah dengan berbicara via telpon. kita berjalan tak tentu arah sampai kakiku lecet karna belum terbiasa menggunakan sepatu ber-hak. kita berlari-lari kecil dikejar deru ombak, dan berlari-lari kencang dikejar anjing tetangga karna mencoba mencuri rambutan. kita bertengkar kecil dengan sindir menyindir dan heboh dengan perang yang berakhir dengan aku menangis dan kamu mengalah. kita melakukan lomba menatap-menatap dimana aku selalu kalah. ya, mana tahan menatapmu berlama-lama, jantungku menjadi lemah. kita menghabiskan akhir tahun dengan letusan kembang api dimana-mana, dan letusan cinta hanya dihati kita. kita saling beradu, siapa yang punya cinta dan rindu paling hebat, dan pemenangnya bukan aku atau kamu, tapi kita. kita saling mengatakan "aku sayang kamu, aku rindu kamu, tidak ada yang lebih membahagiakan selain mencintai kamu, tidak ada yang lebih berharga selain memiliki kamu, tidak ada yang lebih berarti selain aku bersama kamu". dan kita berangan tentang masa tua setelah aku dan kamu disahkan menjadi suami istri dengan dua atau tiga anak yang punya mata seindah kamu dan senyum semanis aku.
ya, kita melakukannya. pernah.

baru saja aku ingin menyapa

selanjutnya kamu akan menuangkan satu sendok gula kedalam teh yang baru saja diletakkan oleh pelayan. sama seperti pada senja yang sudah-sudah. entah ini yang keberapa kali, aku juga lupa. aku hanya ingat bagaimana pertama kali kamu datang. masuk perlahan membuka pintu kedai dengan stelan kemeja biru donker, celana hitam, sepatu kets hitam, tas hitam bertali panjang yang disandang disebelah kiri, dengan badan tegap yang semakin membenarkan bahwa kamu pria gagah.

kemudian kamu menuju meja paling ujung tepat disamping jendela. disana kamu semakin gagah dibias sinar matahari terbenam. dimeja yang kamu duduki itu hanya ada dua kursi. satu yang kamu duduki, satu lagi yang berhedapan, kamu letakkan tas hitam yang selalu sama kamu pakai hingga saat ini. lalu pelayan datang, dengan yakinnya aku bisa menebak kamu akan memesan secangkir teh tawar dan sebuah burger. aku heran, itu bukan perpaduan makanan yang menyenangkan. tapi dimataku, itu tetap jadi bagian yang kusuka.

sembari menunggu pesanan. kamu akan mengeluarkan rokok dari saku celana sebelah kiri. kutebak lagi, itu pasti rokok dengan lambang huruf A. lalu kamu mulai menghidupkannya dengan cara yang sudah sangat fasih bisa kupraktekan jika ada yang bertanya bagaimana cara kamu menghidupkan rokok. untungnya tidak ada yang bertanya, karna aku bukan wanita yang melegalkan rokok dikalangan wanita. kembali lagi pada caramu merokok. lalu kamu akan sedikit mendongakkan kepala ketika akan menghembuskan asap pertama. tepat pada bagian ini, aku jatuh cinta. bukan pada rokokmu, tapi pada cara santai tapi meyakinkan ketika kamu menghembuskan asap cinta bagiku.

dan sekarang, sudah pada bagian kamu menikmati secangkir teh dan burger dalam ukuran besar. aku masih memperhatikannya, tetap memperhatikannya. memperhatikanmu, sampai tidak sadar aku sudah berdiri dari singgasanaku. mengambil langkah pertama dengan tujuan tempat duduk dihadapanmu. sampai aku sadar seorang gadis melewatiku dan menempati tempat yang didalam otakku sudah sah menjadi hak milikku. aku terhenti, menatap sebentar. kamu juga berhenti mengunyah, menatap lama kegadis yang tidak bisa kugambarkan karna duduk membelakangiku. aku berbalik, kembali kesinggasanaku. lalu duduk dan memperhatikan. memperhatikan bagaimana lembutnya tangan gadis itu menyentuh tanganmu. bagaimana tatapan dan senyummu begitu bahagia. bagaimana aku menatap kalian sudah dengan air mata.

ah, kalian bergegas pergi, berangkulan, mesra. dengan sigap kuhapus air mata dan meneguk ice chocolate yang sudah tidak layak lagi disebut ice. padahal, baru saja aku ingin menyapa. ya, baru saja.

#5

1. sejuta rasa pada satu raga.

2. seperti sabit, tatapmu membabit.

3. pelumpuhku, ya senyummu.

4.  jika punya kuasa, kupingit senyummu untukku saja.

5. untung senyummu bukan narkotika, jika tidak aku sudah direhab.

6. aku bisa menyebutkan tiga senyum terindah didunia.
senyummu, senyamnya kamu, senyumnya senyum kamu.

7. selalu kekurangan waktu untuk menikmati seulas senyummu.

8. menatapmu saja aku tersenyum, apa lagi kalau kamu tersenyum. hem, entahlah.

#4

1. kutitip rindu pada angin yang melaluimu. jika ada yang menghempas, itu pelukku.

2. aku punya lebih dari yang kamu punya untuknya.

3. kamu, menjadi persis seperti "dia" jika aku yang bercerita.

4. jika saja tidak terlalu tahu, mungkin tidak akan terlalu sulit, terlalu sakit.

5. hujan deras, rinduku lebih.
hujan rintik, rinduku tetap.

6. aku akan membiarkan kamu tidak tahu bahwa aku tahu biar kamu tahu aku tidak tahu.

7. mengerem itu susah, karna ada yang harus kamu kendalikan.

#3

1. memikirkanmu, aku diserang rindu. merindukanmu, aku diserang lelah.
coba cintamu yang menyerangku, pasti rindu tak ada lelahnya memikirkanmu.

2. ada banyak hal yang aku ingat, tentang kamu.
ada satu hal yang kamu lupakan, aku.

3. rinduku ingin bertemu denganmu, bukan rindumu. toh tindumu itu, bukannya aku.

4. kulihat belakang, ada bayanganku dan .. ah, bayanganmu.

5. lihat, betapa mudah membayangkanmu hanya dengan memejamkan mata.

6. cuma dipikiranku kamu bisa jadi apa saja yang tidak mungkin.
jadi milikku salah satunya.

7. dan uang mencuri kamu malam ini adalah rindu.

8. pada tiap cerita yang telah, pada tiap rindu yang akan.

9. jangan ajak cintaku beradu, kecuali kamu mau jadi pecundang.

kekamu, aku belum selesai.


terkadang kamu harus mengerti, ada hal yang memang harus terjadi diluar keinginan kamu, rencana kamu, impian kamu. lalu impian itu harus menjadi mimpi semata. banyak hal yang terjadi diluar perkiraan kamu, perasaan kamu, dan kenyataan yang mungkin kamu impikan. sekali lagi, impian itu hanya menjadi mimpi semata.
...........

seperti ketika aku (dan kamu) bercerita tentang kita. tentang rencana yang tidak disengaja. tentang rindu-rindu kita yang memburu. tentang cinta yang tersamar karna tidak pernah ada kata yang melamar. ada tawa yang kita lantangkan. ada senyum gugup yang kuselipkan ketika malu-malu melihatmu. ada keingintahuanmu yang selalu ingin kuberi tahu. ada rasa aman, nyaman yang selalu kamu tawarkan sekalipun tidak aku butuhkan. ada kekeliruan yang kamu biarkan, sampai aku mengerti bahwa aku jatuh cinta, bahwa aku salah mengerti atas perlakuanmu.

mungkin, menurutmu perlakuan seperti itu adalah hal biasa. tapi bagiku, itu istimewa. mungkin, aku hanya tidak terlalu pandai membaca hatimu sampai salah mengira. atau mungkin, kamu yang tidak yakin pada dirimu meski rasa itu ada. ah, bisakah kalimat sebelum ini yang menjadi alasannya, sampai kamu tidak membuat ini benar-benar nyata? haha, aku ingin tertawa saja memikirkannya. terlalu sakit, sampai sulit menangis.

kamu membuat yang tidak pernah terjadi itu seperti ada. lalu salah siapa? kamu yang menawarkan atau aku yang mengiyakan? kekamu, aku belum selesai. kehilangan kamu sebelum utuh menjadi milikku, itu menyakitkan. mengertikah rasanya kehilangan sesuatu yang belum tapi ingin dan nyaris kamu miliki? ah, janganlah kamu merasakannya, aku tidak mau kamu sesulit aku mencintaimu, melepaskanmu.

luka, tak bisa lebih sakit dari harus mengobatinya dengan ikhlas. tapi satu-satunya obat untuk luka hati, ya ikhlas. lagi-lagi, impian itu harus menjadi mimpi semata.