aku hanya bisa menangis waktu kamu bilang bahwa kamu dan mantan pacarmu tidak sengaja bertemu hingga akhirnya sedikit menghabiskan waktu dari siang hingga nyaris larut. tahukah kamu? sudah kubaca semua pesan singkat kalian yang lupa kamu hapus. ya, aku sudah bisa pastikan apa yang akan kamu jadikan alasan. ingatkah sayang? bukan kali pertama ini terjadi dan sudah yang kesekian kalinya kumaafkan.
suatu hari kamu marah besar lantaran melihatku bersama seorang teman lelaki yang juga kamu kenal. dengan tegas kamu menghakimi aku berselingkuh, dengan sabar aku yakinkan kamu bahwa ini hanya pertemuan yang benar-benar tidak disengaja. padahal, aku sudah berkali-kali menghubungimu untuk memberitahu apa yang sedang aku lakukan. tentu agar kamu tidak salah paham dan karna memang aku akan selalu berbagi kabar denganmu, sekalipun kamu tidak. tapi kamu kemana? ponselmu mati. dan yang aku tahu dari orang dikantormu, kamu keluar dengan seorang wanita cantik yang menungguimu bahkan sebelum jam makan siang dimulai. siapa dia? ketika aku tanyakan itu kamu malah lebih marah dan mengakhiri hubungan kita. lalu aku, memohon dengan iba padamu untuk tidak mengakhiri ini atas kesalahanku yang tidak ada, atas ketidakjujuranmu yang kesekian, atas cintaku yang akan tetap tidak berubah. seperti akukah cintamu, sayang?
sesekali keadaan membaik. kamu bersikap dengan penuh kasih, nyaris seperti aku yang mencintaimu. membuatku menyalahi diri sendiri karna sempat meragukanmu.
tapi, baru saja yakin bahwa aku salah, kamu langsung membuatku lebih yakin bahwa, aku salah dengan keyakinanku barusan. yah, here we are. aku dan rasa lelah yang seharian berkutat dengan uang-uang yang serinya sudah tak menentu, harus dipaksa lebih lelah melihatmu bercengkrama dengan wanita di cafe tempat pertama kita jatuh cinta. ingatkah sayang? disana, kita jatuh cinta.
tanpa pikir panjang, kuparkirkan mobil tepat disebelah mobilmu. berjalan lunglai memasuki rasa sakitku dan berdiri dihadapan kalian. kamu tersentak, wanita itu tertunduk. seperti biasa, kamu akan mulai bersandiwara, dengan alasan dan maaf yang sudah hambar untuk kudengar. sayang, aku kesini bukan untuk penjelasanmu, tapi untuk pertanyaan dan pernyataanku. “seperti akukah cintamu, sayang?” kuhapus air mata dan sebisa mungkin bertutur dengan penuh kasih menahan emosi. kamu hanya diam, dan sepertinya menyesal. tapi bukankah sesal selalu datang belakangan, sayang? dan kamu sudah terlambat. benar-benar terlambat. “ternyata kita benar-benar berbeda, khususnya pada cinta. mungkin, kalian yang akan sama. aku pergi”. kutinggalkan cerita akhir ditempat pertama kita jatuh cinta. berjalan tanpa berbalik sekalipun kamu berteriak meminta maaf dan penyesalan untuk kembali. cintamu takkan pernah bisa seperti aku, sayang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar