selanjutnya kamu akan menuangkan satu sendok gula kedalam teh yang baru saja diletakkan oleh pelayan. sama seperti pada senja yang sudah-sudah. entah ini yang keberapa kali, aku juga lupa. aku hanya ingat bagaimana pertama kali kamu datang. masuk perlahan membuka pintu kedai dengan stelan kemeja biru donker, celana hitam, sepatu kets hitam, tas hitam bertali panjang yang disandang disebelah kiri, dengan badan tegap yang semakin membenarkan bahwa kamu pria gagah.
kemudian kamu menuju meja paling ujung tepat disamping jendela. disana kamu semakin gagah dibias sinar matahari terbenam. dimeja yang kamu duduki itu hanya ada dua kursi. satu yang kamu duduki, satu lagi yang berhedapan, kamu letakkan tas hitam yang selalu sama kamu pakai hingga saat ini. lalu pelayan datang, dengan yakinnya aku bisa menebak kamu akan memesan secangkir teh tawar dan sebuah burger. aku heran, itu bukan perpaduan makanan yang menyenangkan. tapi dimataku, itu tetap jadi bagian yang kusuka.
sembari menunggu pesanan. kamu akan mengeluarkan rokok dari saku celana sebelah kiri. kutebak lagi, itu pasti rokok dengan lambang huruf A. lalu kamu mulai menghidupkannya dengan cara yang sudah sangat fasih bisa kupraktekan jika ada yang bertanya bagaimana cara kamu menghidupkan rokok. untungnya tidak ada yang bertanya, karna aku bukan wanita yang melegalkan rokok dikalangan wanita. kembali lagi pada caramu merokok. lalu kamu akan sedikit mendongakkan kepala ketika akan menghembuskan asap pertama. tepat pada bagian ini, aku jatuh cinta. bukan pada rokokmu, tapi pada cara santai tapi meyakinkan ketika kamu menghembuskan asap cinta bagiku.
dan sekarang, sudah pada bagian kamu menikmati secangkir teh dan burger dalam ukuran besar. aku masih memperhatikannya, tetap memperhatikannya. memperhatikanmu, sampai tidak sadar aku sudah berdiri dari singgasanaku. mengambil langkah pertama dengan tujuan tempat duduk dihadapanmu. sampai aku sadar seorang gadis melewatiku dan menempati tempat yang didalam otakku sudah sah menjadi hak milikku. aku terhenti, menatap sebentar. kamu juga berhenti mengunyah, menatap lama kegadis yang tidak bisa kugambarkan karna duduk membelakangiku. aku berbalik, kembali kesinggasanaku. lalu duduk dan memperhatikan. memperhatikan bagaimana lembutnya tangan gadis itu menyentuh tanganmu. bagaimana tatapan dan senyummu begitu bahagia. bagaimana aku menatap kalian sudah dengan air mata.
ah, kalian bergegas pergi, berangkulan, mesra. dengan sigap kuhapus air mata dan meneguk ice chocolate yang sudah tidak layak lagi disebut ice. padahal, baru saja aku ingin menyapa. ya, baru saja.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar