Aku tak habis pikir, kenapa mereka selalu berkata, rindu akan benar terasa ketika hujan tiba. Juga, bahwa masa lalu seolah nyata di depan mata. Lucu saja. Sedangkan aku pasti akan langsung berguyur di bawahnya. Riang.
Hingga akhirnya aku mengerti, setelah aku kehilanganmu.
Jumat, 13 Desember 2013
Sabtu, 09 November 2013
Dalam Kata
Dulu, aku berharap mahir dalam melukis. Alasannya sederhana, agar aku bisa mengabadikan tiap raut wajah orang yang aku cinta. Tapi tiap kali disuruh menggambar, aku hanya bisa menggambar dua buah gunung dengan beberapa rumah di kakinya.
Kuganti harapanku. Kali ini aku ingin pandai menyanyi. Tidak, bukannya jadi penyanyi. Hanya, pasti menyenangkan bisa mendendangkan lagu dengan suara merdu untuk orang yang dicintai. Tapi lagi-lagi, aku tak berjodoh dalam hal ini. Suaraku sangat cukup untuk membuat tetangga tidak nyaman tinggal di rumahnya sendiri.
Sampai akhirnya, aku menemukan cara untuk membuat orang yang aku cinta menjadi abadi. Akan tetap hidup walau segala telah mati. Akan tetap diingat walau bukan oleh pikirku sendiri. Aku menemukan tempat dalam kata-kata;yang tetap tak bisa sempurna mengartikan kita, yang selalu bermakna dalam mengartikan kamu.
Kuganti harapanku. Kali ini aku ingin pandai menyanyi. Tidak, bukannya jadi penyanyi. Hanya, pasti menyenangkan bisa mendendangkan lagu dengan suara merdu untuk orang yang dicintai. Tapi lagi-lagi, aku tak berjodoh dalam hal ini. Suaraku sangat cukup untuk membuat tetangga tidak nyaman tinggal di rumahnya sendiri.
Sampai akhirnya, aku menemukan cara untuk membuat orang yang aku cinta menjadi abadi. Akan tetap hidup walau segala telah mati. Akan tetap diingat walau bukan oleh pikirku sendiri. Aku menemukan tempat dalam kata-kata;yang tetap tak bisa sempurna mengartikan kita, yang selalu bermakna dalam mengartikan kamu.
Kamis, 24 Oktober 2013
Hanya Jika Kau Membaca Ini
Hanya jika kau membaca ini
Kau akan tahu bahwa,
Aku memikirkanmu, dalam tiap detik yang kudengar,
dalam tiap detak yang kau debar
Aku mengingatmu, lewat segala kata, semerdu suara, senyata bayang
Aku menyebut namamu, sembunyi-sembunyi;
beberapa di dalam do'a, ada banyak di dalam hati
Aku merindukanmu, tak kenal pagi yang mengggantung kantuk,
tak kenal larut yang membuatku tetap terjaga
Aku mencintaimu, dalam pikir yang tak bisa kau baca,
lewat kata pada suara yang tak kau dengar,
lewat rindu yang menggenang di ujung mata,
dengan cinta yang tak akan kau mengerti
Kau akan tahu
Hanya jika kau membaca ini
Kau akan tahu bahwa,
Aku memikirkanmu, dalam tiap detik yang kudengar,
dalam tiap detak yang kau debar
Aku mengingatmu, lewat segala kata, semerdu suara, senyata bayang
Aku menyebut namamu, sembunyi-sembunyi;
beberapa di dalam do'a, ada banyak di dalam hati
Aku merindukanmu, tak kenal pagi yang mengggantung kantuk,
tak kenal larut yang membuatku tetap terjaga
Aku mencintaimu, dalam pikir yang tak bisa kau baca,
lewat kata pada suara yang tak kau dengar,
lewat rindu yang menggenang di ujung mata,
dengan cinta yang tak akan kau mengerti
Kau akan tahu
Hanya jika kau membaca ini
Satu Langkah Di Belakangmu
Ada yang selama ini kamu lewatkan.
Tentang seseorang yang selalu ada, namun keberadaannya tidak pernah kamu iyakan.
Yang ketika kamu marah, siap melapangkan dadanya untuk jadi tumpahan kesalmu.
Yang ketika kamu sedih, akan seusaha mungkin menghibur, walau hanya kamu jadikan pendengar.
Yang ketika kamu bahagia, ikut tersenyum walau bukan dia alasannya.
Yang ketika kamu jenuh, dengan sedia menjadi selingan agar waktu yang kamu rutuki cepat berlalu.
Yang ketika kamu memanjatkan do'a, dengan sigap mengucap aamiin.
Yang ketika kamu sibuk mencari hingga terlalu jauh, tetap setia menunggumu dalam jarak yang sangat dekat.
Ada aku, hanya satu langkah di belakangmu.
Tentang seseorang yang selalu ada, namun keberadaannya tidak pernah kamu iyakan.
Yang ketika kamu marah, siap melapangkan dadanya untuk jadi tumpahan kesalmu.
Yang ketika kamu sedih, akan seusaha mungkin menghibur, walau hanya kamu jadikan pendengar.
Yang ketika kamu bahagia, ikut tersenyum walau bukan dia alasannya.
Yang ketika kamu jenuh, dengan sedia menjadi selingan agar waktu yang kamu rutuki cepat berlalu.
Yang ketika kamu memanjatkan do'a, dengan sigap mengucap aamiin.
Yang ketika kamu sibuk mencari hingga terlalu jauh, tetap setia menunggumu dalam jarak yang sangat dekat.
Ada aku, hanya satu langkah di belakangmu.
Minggu, 20 Oktober 2013
JawabanNya
Aku tak pernah berencana mengenalmu. Namun Tuhan membiarkan alam mempertemukan kita untuk saling menyapa. Aku tak lantas berandai menjadikanmu orang yang akan kujatuhi cinta untuknya. Tapi Tuhan dengan begitu saja mengarahkan tiap pikirku menuju kamu. Aku tak bisa perkirakan, apa yang kujatuhkan akan disanggup oleh hatimu. Tuhan tak juga menunjukkan pertanda apa pun. Lalu aku mencari pertanda sendiri, lewat segala tanya padaNya. Segala tanya yang takkan kamu dengar, tapi akan dijawab olehmu.
Dan semoga kamu yang jadi jawabanNya.
Dan semoga kamu yang jadi jawabanNya.
Minggu, 13 Oktober 2013
Pada suatu hari, pada satu hati
Ada banyak pilihan jalan untuk ditapaki. Tapi hanya ada satu jalan yang tepat, untuk temukan tempat untuk ditinggali. Perjalanan kita tidak lebih mudah dari orang lain. Pun sebaliknya.
Hidup tidak selalu tentang apa yang pergi. Tapi juga tentang yang datang atau kembali. Kita pernah jatuh, dan rasanya sakit. Bahkan sangat. Tapi menangislah secukupnya, lalu obati luka dan mulailah berjalan kembali.
Bukankah takdir Tuhan lebih baik daripada rencana kita? Maka yakinlah, pada suatu hari, kita, akan bernaung pada satu hati.
Iya, kita.
Hidup tidak selalu tentang apa yang pergi. Tapi juga tentang yang datang atau kembali. Kita pernah jatuh, dan rasanya sakit. Bahkan sangat. Tapi menangislah secukupnya, lalu obati luka dan mulailah berjalan kembali.
Bukankah takdir Tuhan lebih baik daripada rencana kita? Maka yakinlah, pada suatu hari, kita, akan bernaung pada satu hati.
Iya, kita.
Jumat, 04 Oktober 2013
Kecuali
Terkadang, sekali pun aku menyadari seperti apa aku harus merubah diri, aku tetap butuh kamu untuk melakukannya. Kenapa hanya selalu menempatkanku di ruang tunggu? Sedangkan kita bisa saja berjalan menyusuri dunia bersama-sama;dengan kamu yang mengarahkan aku, dan aku yang pastinya akan mengikuti tiap langkah yang kamu ambil.
Kecuali, jika ternyata kamu telah lebih dulu menemukan tangan lain untuk digenggam. Lebih baik usir aku dari hatimu. Supaya tak satu pun dari kita yang merasakan sakit lebih lama.
Kecuali, jika ternyata kamu telah lebih dulu menemukan tangan lain untuk digenggam. Lebih baik usir aku dari hatimu. Supaya tak satu pun dari kita yang merasakan sakit lebih lama.
Selasa, 24 September 2013
Bisa Jadi
Apa aku merindukanmu? Iya. Tapi tak serta merta aku akan menyapa lebih dulu.
Apa karna aku tidak mau? Tidak, bukan karna itu. Hanya saja aku harus berfikir lebih dari dua kali untuk melakukannya.
'Kenapa?' Tentu itu yang akan jadi pertanyaan. 'Aku hanya takut akan mengganggu', tentu ini alasan klise yang akan kuberikan.
Nyatanya, aku memang takut. Tidak tidak, bukan takut mengganggu. Takut, kalau nanti aku tak bisa berhenti untuk melakukannya. Iya, menghubungimu. Sekedar bertanya kabar atau semacamnya.
Aku hanya takut, jika tak bisa berhenti, aku malah akan terjatuh. Padahal, belum tentu kamu siap menangkap.
Ini bukan tentang siapa yang lebih dulu. Tapi, aku memutuskan untuk setia di ruang tunggu. Kemudian menerka. Bisa jadi, kamu akan memanggilku karna di ruang sana kamu merasa bosan. Atau bisa jadi, aku akan menungguimu lama karna kamu terlalu sibuk di ruang sana dengan segala hal yang tiap kali aku memikirkannya malah aku semakin gelisah.
Sekali lagi, ini bukan tentang siapa yang lebib dulu. Karna bisa jadi juga, kamu sedang berpikiran sama seperti aku.
Apa karna aku tidak mau? Tidak, bukan karna itu. Hanya saja aku harus berfikir lebih dari dua kali untuk melakukannya.
'Kenapa?' Tentu itu yang akan jadi pertanyaan. 'Aku hanya takut akan mengganggu', tentu ini alasan klise yang akan kuberikan.
Nyatanya, aku memang takut. Tidak tidak, bukan takut mengganggu. Takut, kalau nanti aku tak bisa berhenti untuk melakukannya. Iya, menghubungimu. Sekedar bertanya kabar atau semacamnya.
Aku hanya takut, jika tak bisa berhenti, aku malah akan terjatuh. Padahal, belum tentu kamu siap menangkap.
Ini bukan tentang siapa yang lebih dulu. Tapi, aku memutuskan untuk setia di ruang tunggu. Kemudian menerka. Bisa jadi, kamu akan memanggilku karna di ruang sana kamu merasa bosan. Atau bisa jadi, aku akan menungguimu lama karna kamu terlalu sibuk di ruang sana dengan segala hal yang tiap kali aku memikirkannya malah aku semakin gelisah.
Sekali lagi, ini bukan tentang siapa yang lebib dulu. Karna bisa jadi juga, kamu sedang berpikiran sama seperti aku.
Selasa, 03 September 2013
Tentang Mencintaimu
Ini sebuah cerita tentang seorang aku yang mencintai segalanya kamu. Ingat itu, segalanya. Bukan cuma karna setelah bertemu denganmu lalu jatuh cinta. Ini tidak bisa dibilang sesederhana itu.
Ini tentang aku yang dengan penuh mencintaimu. Bukan cuma karna kamu mampu mendamaikan, mampu menenangkan dan menyenangkan. Tapi juga, walau pun suka hilang tanpa kabar lalu kembali dengan senyum polos seperti semua biasa saja, walau pun kita sering bersebrangan pikiran dan bersalah kaprah, walau pun sampai sekarang aku tidak benar-benar memilikimu.
Lihat, rumit bukan?
Ini tentang aku yang mencintaimu dengan cara yang paling sederhana.
Rabu, 21 Agustus 2013
kalian
dia bukan sosok seorang ibu. tapi dia mengasihimu dan juga akan cerewet jika kamu bandel.
dia bukan seorang ayah yang memberimu nafkah. tapi ketika kamu sudah kehabisan uang jajan, dia tak segan membagi yang dia punya di dompetnya (yang mungkin juga tinggal sedikit) walau pun tak seberapa.
dia bukan seperti abang atau kakak yang selalu ada untukmu. tapi sebisa mugkin, ketika kamu membutuhkannya, dia akan ada.
dia bukan adik yang senang kamu ajak bertengkar. tapi bercanda dengannya dan saling mengerjai adalah hal yang juga menyenangkan.
dia bukan nenek atau kakek yang ketika kamu kunjungi akan memberikanmu makanan apa pun. tapi dia akan berbagi makan denganmu walau pun hanya sebuah nasi bungkus.
dia itu, kalian.
dia bukan seorang ayah yang memberimu nafkah. tapi ketika kamu sudah kehabisan uang jajan, dia tak segan membagi yang dia punya di dompetnya (yang mungkin juga tinggal sedikit) walau pun tak seberapa.
dia bukan seperti abang atau kakak yang selalu ada untukmu. tapi sebisa mugkin, ketika kamu membutuhkannya, dia akan ada.
dia bukan adik yang senang kamu ajak bertengkar. tapi bercanda dengannya dan saling mengerjai adalah hal yang juga menyenangkan.
dia bukan nenek atau kakek yang ketika kamu kunjungi akan memberikanmu makanan apa pun. tapi dia akan berbagi makan denganmu walau pun hanya sebuah nasi bungkus.
dia itu, kalian.
Minggu, 18 Agustus 2013
kata-mata
suatu hari, sekumpulan remaja sedang berkumpul. di antara mereka ada cinta yang mengudara. namun tak satu pun yang tahu siapa yang sedang benar-benar menghirupnya. mereka semua tertawa hingga sepasang mata mereka menyipit. dan disela tawa itu, ada dua pasang mata yang sepertinya saring mencuri lihat. mereka berdua saling tak tahu, apakah tatapan mereka itu disengaja oleh masing-masing atau tidak. yang pasti, dalam beberapa kali tatap, mata mereka selalu bertemu.
lantas si gadis mengundurkan diri sejenak. ketika kembali lagi, langkahnya terhenti.
si gadis menatap lama ke arah si lelaki. lama dilihatnya, lelaki itu sedang menjuruskan tatapannya pada satu arah. kali ini, tatapan mereka tak bertemu.
seorang gadis lain yang duduk bersebrangan dengan si lelaki. iya, gadis lain. gadis lain ini tak menyadari, tapi si lelaki begitu enggan melepaskan tatapannya.
si gadis merasa ada yang menghantam dadanya. seketika nafasnya berat. pandangannya seolah berbayang. ah, di matanya ada yang menggenang.
'hei, nangis ya?', ucap salah seorang dari remaja tadi. buru-buru si gadis mengucek matanya sambil berkata, 'kemasukkan debu, nih'.
si lelaki menatapnya. kali ini si gadis tahu benar harus berbuat apa. dia berjalan saja tanpa melirik sedikit pun. hatinya menggumam, 'aku tak igin jatuh pada mata yang telah jatuh pada mata yang lain'.
lantas si gadis mengundurkan diri sejenak. ketika kembali lagi, langkahnya terhenti.
si gadis menatap lama ke arah si lelaki. lama dilihatnya, lelaki itu sedang menjuruskan tatapannya pada satu arah. kali ini, tatapan mereka tak bertemu.
seorang gadis lain yang duduk bersebrangan dengan si lelaki. iya, gadis lain. gadis lain ini tak menyadari, tapi si lelaki begitu enggan melepaskan tatapannya.
si gadis merasa ada yang menghantam dadanya. seketika nafasnya berat. pandangannya seolah berbayang. ah, di matanya ada yang menggenang.
'hei, nangis ya?', ucap salah seorang dari remaja tadi. buru-buru si gadis mengucek matanya sambil berkata, 'kemasukkan debu, nih'.
si lelaki menatapnya. kali ini si gadis tahu benar harus berbuat apa. dia berjalan saja tanpa melirik sedikit pun. hatinya menggumam, 'aku tak igin jatuh pada mata yang telah jatuh pada mata yang lain'.
Sabtu, 22 Juni 2013
Peluk
Aku mulai menyangsikan bahwa peluk akan menghangatkan. Terbukti sekarang. Pertama kalinya, aku tak ingin melepaskan. Dan untuk terakhir kalinya, aku tak ingin melepaskan.
Kita terdiam. Namun waktu tak juga berhenti seperti yang kuharapkan. Detak jantung kita masing-masing terdengar. Jelas sesakku bisa kau rasa. Pelukan kita lebih erat daripada biasanya.
Kita masih diam. Dan aku sangat tahu kau mulai lelah;untuk melingkari lenganmu mendekap tubuhku. Untuk tetap berdiri, menahan agar aku tak jatuh. Untuk memberikan aku waktu memilikimu hingga detik akhir hari ini.
Aku mulai terisak. Kenangan dan angan-angan kita mulai berteriak hingga aku seperti tuli. Tak ingin mendengar bahwa kau akan berkata selamat tinggal.
Kau masih berusaha tetap memelukku. Dan aku tetap tak ingin melepaskannya. Walau nanti kita akan tetap bertemu, tapi seperti yang kita tahu, kita tak lagi adalah satu. Kau tak lagi akan mengingatku sebagai orang yang tak pernah ingin kau lupakan. Dan aku harus mulai mengingatmu sebagai orang yang harus kulupakan.
Setetes air jatuh di bahumu. Bukan karna tangisku yang sudah membanjir. Tapi karna langit mulai gerimis. Langit ikut mendung. Sepasang kekasih, dua ciptaan Tuhan dengan cinta di antara mereka, memilih berpisah karna tak sama dalam menyebut namaNya.
Kau mulai merenggangkan lengan. Memundurkan dirimu perlahan. Aku masih tetap diam. Enggan melepaskan pelukan ini. Sangat enggan melepaskanmu.
Kau beranjak pergi. Tanpa berkata apa- apa. Tanpa menatapku berlama-lama. Kita kehabisan kata. Selamat tinggal menutup segalanya.
Adakah yang lebih dingin dan menusuk daripada angin malam ini? Ada. Pelukan kita.
Kita terdiam. Namun waktu tak juga berhenti seperti yang kuharapkan. Detak jantung kita masing-masing terdengar. Jelas sesakku bisa kau rasa. Pelukan kita lebih erat daripada biasanya.
Kita masih diam. Dan aku sangat tahu kau mulai lelah;untuk melingkari lenganmu mendekap tubuhku. Untuk tetap berdiri, menahan agar aku tak jatuh. Untuk memberikan aku waktu memilikimu hingga detik akhir hari ini.
Aku mulai terisak. Kenangan dan angan-angan kita mulai berteriak hingga aku seperti tuli. Tak ingin mendengar bahwa kau akan berkata selamat tinggal.
Kau masih berusaha tetap memelukku. Dan aku tetap tak ingin melepaskannya. Walau nanti kita akan tetap bertemu, tapi seperti yang kita tahu, kita tak lagi adalah satu. Kau tak lagi akan mengingatku sebagai orang yang tak pernah ingin kau lupakan. Dan aku harus mulai mengingatmu sebagai orang yang harus kulupakan.
Setetes air jatuh di bahumu. Bukan karna tangisku yang sudah membanjir. Tapi karna langit mulai gerimis. Langit ikut mendung. Sepasang kekasih, dua ciptaan Tuhan dengan cinta di antara mereka, memilih berpisah karna tak sama dalam menyebut namaNya.
Kau mulai merenggangkan lengan. Memundurkan dirimu perlahan. Aku masih tetap diam. Enggan melepaskan pelukan ini. Sangat enggan melepaskanmu.
Kau beranjak pergi. Tanpa berkata apa- apa. Tanpa menatapku berlama-lama. Kita kehabisan kata. Selamat tinggal menutup segalanya.
Adakah yang lebih dingin dan menusuk daripada angin malam ini? Ada. Pelukan kita.
Kamis, 20 Juni 2013
Maaf
hanya orang buta yang tidak bisa melihat betapa cantiknya kamu. caramu bicara tidak hanya menyejukkan telinga, tapi juga mencerminkan pintarnya otakmu menyeleksi kata. bahkan untuk sekedar menjadi canda. tawamu yang terselip diantaranya, membuatku jatuh cinta.
aku tidak tahu harus mensyukuri ini atau bagaimana. bertemu denganmu, aku seperti mencium bau harum yang memikat. jika ada yang bertanya apakah denganmu aku bahagia? jawabnya tentu iya. sayangnya, tidak ada yang mempertanyakan itu selain kamu.
semua terjadi diluar kuasaku. sebelumnya aku akan menegaskan, ini bukan salahmu, ini karna kegoyahan dan kebohonganku yang merahasiakan segalanya. tentang hubungan kita terhadap siapa pun. tentang wanita lain yang kucintai selain kamu.
dia, istriku. aku merasa kehilangan sosoknya sejak kami mempunyai anak. dia lebih peduli pada anak kami dan mengabaikan aku. dia mulai jarang berdandan, bahkan untuk sekedar memakai wewangian. dia mulai mengenyampingkan makanan kesukaanku, hanya untuk menyiapkan bubur anak kami. aku merasa tersaingi. saat itu kamu datang. menyuap hidupku untuk tertawa terbahak. di mataku kamu mendekati sempurna hingga aku buta. hingga tidak bisa melihat bahwa aku terlalu egois karna terlalu mencintai istriku. terlalu ingin aku jadi yang satu-satunya. padahal, lewat anak kamilah, kami berdua menyatu.
terlambat untuk menyadari bahwa yang aku lakukan ini salah. tapi kurasa, belum terlambat jika harus mengakhiri ini. istriku tidak pernah berubah. aku saja yang belum siap menerima keadaan seperti ini. kemarin, dia memperbaiki segalanya tanpa harus merubah apa pun yang ada. aku tak ingin salah terlalu jauh dengan terus mengkhianatinya dan membuatmu lebih dalam mencintaiku.
silakan sebut aku lelaki jahat. aku pantas mendapatkannya. makanya, aku ingin memperbaiki segalanya dengan meninggalkanmu dan melanjutkan rumah tanggaku.
maaf.
aku tidak tahu harus mensyukuri ini atau bagaimana. bertemu denganmu, aku seperti mencium bau harum yang memikat. jika ada yang bertanya apakah denganmu aku bahagia? jawabnya tentu iya. sayangnya, tidak ada yang mempertanyakan itu selain kamu.
semua terjadi diluar kuasaku. sebelumnya aku akan menegaskan, ini bukan salahmu, ini karna kegoyahan dan kebohonganku yang merahasiakan segalanya. tentang hubungan kita terhadap siapa pun. tentang wanita lain yang kucintai selain kamu.
dia, istriku. aku merasa kehilangan sosoknya sejak kami mempunyai anak. dia lebih peduli pada anak kami dan mengabaikan aku. dia mulai jarang berdandan, bahkan untuk sekedar memakai wewangian. dia mulai mengenyampingkan makanan kesukaanku, hanya untuk menyiapkan bubur anak kami. aku merasa tersaingi. saat itu kamu datang. menyuap hidupku untuk tertawa terbahak. di mataku kamu mendekati sempurna hingga aku buta. hingga tidak bisa melihat bahwa aku terlalu egois karna terlalu mencintai istriku. terlalu ingin aku jadi yang satu-satunya. padahal, lewat anak kamilah, kami berdua menyatu.
terlambat untuk menyadari bahwa yang aku lakukan ini salah. tapi kurasa, belum terlambat jika harus mengakhiri ini. istriku tidak pernah berubah. aku saja yang belum siap menerima keadaan seperti ini. kemarin, dia memperbaiki segalanya tanpa harus merubah apa pun yang ada. aku tak ingin salah terlalu jauh dengan terus mengkhianatinya dan membuatmu lebih dalam mencintaiku.
silakan sebut aku lelaki jahat. aku pantas mendapatkannya. makanya, aku ingin memperbaiki segalanya dengan meninggalkanmu dan melanjutkan rumah tanggaku.
maaf.
Ada
ada, cinta yang tidak pernah mengkhianatimu walau kau bukan satu-satunya yang dia punya. ada, hati yang selalu utuh walau semakin lama semakin rapuh. walau telah kau patahkan berkali-kali.
ada, kepercayaan yang kembali lagi walau telah kau bohongi tidak hanya sekali dua kali. ada, senyum bahagia dan rasa syukur tak terkira ketika tahu kau bisa berdiri dan berjalan sendiri, bisa membaca dan melakukan hal yang baik.
ada, air mata yang mengalir tanpa henti walau telah diseka. entah karena kau melukainya hingga terasa perih, atau karna kau membuat bahagia yang terlalu.
ada, do'a yang terucap tanpa henti, ketika kau bahkan tidak meminta itu.
ada, akan kau temukan pada mereka, yang kau sebut orang tua.
ada, kepercayaan yang kembali lagi walau telah kau bohongi tidak hanya sekali dua kali. ada, senyum bahagia dan rasa syukur tak terkira ketika tahu kau bisa berdiri dan berjalan sendiri, bisa membaca dan melakukan hal yang baik.
ada, air mata yang mengalir tanpa henti walau telah diseka. entah karena kau melukainya hingga terasa perih, atau karna kau membuat bahagia yang terlalu.
ada, do'a yang terucap tanpa henti, ketika kau bahkan tidak meminta itu.
ada, akan kau temukan pada mereka, yang kau sebut orang tua.
Rabu, 22 Mei 2013
Di Sudut Jendela
hai, rin.
apa kabarmu? ah, ini sangat terasa basa-basi. tapi, aku selalu gagap kalau berbicara denganmu, sekali pun lewat surat ini. hanya saja, aku pandai menyembunyikannya hingga kamu tidak menyadari. hingga aku mengatakan soal itu. aku tidak tahu kata baik seperti apa lagi untuk meneruskan ini. bukannya tak punya kosa kata, tapi keadaanku sedang tidak bisa berpikir tentang hal yang baik.
boleh aku bertanya? aku ini, kamu anggap apa? kamu tidak harus menjawabnya dengan membalas surat ini atau pun mengatakannya langsung. cukup kamu jawab sendiri untuk dirimu sendiri. itu pun jika kamu mau. aku, hanya ingin mengatakan sesuatu. yang selama ini hanya hati dan pikiranku yang tahu. aku tidak tahu kamu menamai hubungan kita ini apa. kalau kamu sebut ini sahabat, maka aku adalah sahabat yang lancang karna mencintaimu diam-diam. kalau kamu anggap ini lebih dari itu, lantas kenapa aku selalu merasa ada batas untuk bisa memilikimu secara utuh.
apa barusan aku bilang bahwa aku mencintaimu? ah, lihat kelancanganku barusan. tapi, aku sudah lelah menahn sendiri perasaan ini. mugnkin memang tidak terbalas, bahkan aku tidak lagi berharap. sekali lagi, aku hanya ingin kamu tahu, tidak lebih.
surat ini, kuselipkan di sudut jendelamu. aku ingat kamu pernah bilang, ketika ingin melupakan seseorang, kamu akan membuang bayangnya dengan menangis sejadi-jadinya di jendela ini. dan aku, ingin memposisikan diriku menjadi orang itu. mungkin bukan kamu lupakan sebagai orang yang kamu cinta, tetapi sebagai orang yang mencintaimu.
aku telah sampai di ujung muara. tempat segala ceritaku berakhir, dan ceritamu akan dimulai.
selamat untuk pernikahanmu hari ini. aku percaya, yang mendampingimu pastilah orang yang baik. bagaimana aku bisa tahu? jawabannya sederhana, karna dia mendampingimu, orang terbaik yang pernah dicptakan Tuhan, bagiku. maaf aku tidak bisa datang. tidak ingin datang sebenarnya. ada luka yang tidak bisa kusembunyikan kalau harus menjadi saksi bahwa orang yang aku cinta, akan hidup bersama orang lain.
dari jauh, do'aku selalu bersedia memelukmu. untuk jadi pelindung walau kamu sudah sangat terjaga. untuk menjadi penyumbang bahagia walau bahagiamu sudah berlimpah.
ketika surat ini sudah kamu baca, jadikan aku sebagai orang yang kamu lupakan. maka dengan mudah, kamu akan kurela.
"bodoh. kenapa baru sekarang. bodoh! bagaimana bisa aku melupakanmu. bodoh!", teriakku dalam hati dengan tangis terisak.
apa kabarmu? ah, ini sangat terasa basa-basi. tapi, aku selalu gagap kalau berbicara denganmu, sekali pun lewat surat ini. hanya saja, aku pandai menyembunyikannya hingga kamu tidak menyadari. hingga aku mengatakan soal itu. aku tidak tahu kata baik seperti apa lagi untuk meneruskan ini. bukannya tak punya kosa kata, tapi keadaanku sedang tidak bisa berpikir tentang hal yang baik.
boleh aku bertanya? aku ini, kamu anggap apa? kamu tidak harus menjawabnya dengan membalas surat ini atau pun mengatakannya langsung. cukup kamu jawab sendiri untuk dirimu sendiri. itu pun jika kamu mau. aku, hanya ingin mengatakan sesuatu. yang selama ini hanya hati dan pikiranku yang tahu. aku tidak tahu kamu menamai hubungan kita ini apa. kalau kamu sebut ini sahabat, maka aku adalah sahabat yang lancang karna mencintaimu diam-diam. kalau kamu anggap ini lebih dari itu, lantas kenapa aku selalu merasa ada batas untuk bisa memilikimu secara utuh.
apa barusan aku bilang bahwa aku mencintaimu? ah, lihat kelancanganku barusan. tapi, aku sudah lelah menahn sendiri perasaan ini. mugnkin memang tidak terbalas, bahkan aku tidak lagi berharap. sekali lagi, aku hanya ingin kamu tahu, tidak lebih.
surat ini, kuselipkan di sudut jendelamu. aku ingat kamu pernah bilang, ketika ingin melupakan seseorang, kamu akan membuang bayangnya dengan menangis sejadi-jadinya di jendela ini. dan aku, ingin memposisikan diriku menjadi orang itu. mungkin bukan kamu lupakan sebagai orang yang kamu cinta, tetapi sebagai orang yang mencintaimu.
aku telah sampai di ujung muara. tempat segala ceritaku berakhir, dan ceritamu akan dimulai.
selamat untuk pernikahanmu hari ini. aku percaya, yang mendampingimu pastilah orang yang baik. bagaimana aku bisa tahu? jawabannya sederhana, karna dia mendampingimu, orang terbaik yang pernah dicptakan Tuhan, bagiku. maaf aku tidak bisa datang. tidak ingin datang sebenarnya. ada luka yang tidak bisa kusembunyikan kalau harus menjadi saksi bahwa orang yang aku cinta, akan hidup bersama orang lain.
dari jauh, do'aku selalu bersedia memelukmu. untuk jadi pelindung walau kamu sudah sangat terjaga. untuk menjadi penyumbang bahagia walau bahagiamu sudah berlimpah.
ketika surat ini sudah kamu baca, jadikan aku sebagai orang yang kamu lupakan. maka dengan mudah, kamu akan kurela.
"bodoh. kenapa baru sekarang. bodoh! bagaimana bisa aku melupakanmu. bodoh!", teriakku dalam hati dengan tangis terisak.
Jumat, 22 Februari 2013
Lebih baik tidak
Aku bisa saja mengingat setiap hal yang kita lakukan bersama. Mengingat hingga detil terkecil tentangmu. Tapi, lebih baik tidak. Akan baik untukku jika tidak mengenangmu, lalu mengira-ngira apa yang terjadi dalam hidupmu sekarang.
Aku bisa saja menghubungimu. Menanyakan kabar dan lalu berbincang tentang banyak hal. Tapi, lebih baik tidak. Akan baik untukku jika tetap seperti ini. Membiasakan diri hingga terbiasa tanpamu.
Aku bisa saja mengatakan bahwa, aku mencintaimu. Tapi, lebih baik tidak. Akan sangat baik untuk hatiku jika kamu tetap tidak tahu. Supaya hatiku itu tidak mengharap yang macam-macam.
Ya, aku bisa melakukan apa saja yang aku mau. Tapi, lebih baik tidak.
Diam
Dia bukan lupa caranya tersenyum.
Hanya kehilangan satu alasan untuk melakukan itu. Satu alasan itu, merupakan
segalanya baginya.
Aku pernah melihat matanya. Cukup
sering. Dan waktu itu, aku sangat ingat. Ketika aku, dia, dan beberapa teman
yang lain sedang menghabiskan akhir pekan bersama. Matanya begitu riang.
Sudut-sudut yang lancip semakin cipit ketika dia tertawa terbahak. Menurutku,
dia adalah perempuan paling riang yang pernah kutemui. Tak sekali pun selama
aku berteman dengannya, ada air mata yang menetes atau bahkan raut sedih
sedikit saja. Dia selalu bisa tertawa dan membuat yang lain juga tertawa. Tapi
yang kulihat saat ini, di hadapanku, wajahnya sendu. Matanya sembab. Bibirnya
akan semakin kering karna untuk membuka mulut saja dia tidak mau.
Ini, sudah terjadi sejak tiga hari
lalu setelah Arif meninggal dunia. Arif, adalah salah satu teman kami. Ada aku,
dia, Arif, Budi dan Reno. Arif meninggal karna kecelakaan pada akhir pekan
ketika kami menghabiskan waktu bersama. Kecelakaan itu terjadi setelah Arif
mengantar Rina;pacarnya, pulang. Waktu itu Arif juga mengikutsertakan Rina
dalam liburan.
Aku tidak mengerti ini. Tapi
dibanding Rina, dia terlihat lebih kehilangan. Aku mengira, mungkin karna dia
dan Arif sudah berteman cukup lama. Jadi kehilangannya lebih terasa.
Bukannya tidak aku berusaha
menenangkan dia. Tapi, ketika seseorang kalut, dia sama saja seperti tembok.
Hanya saja dibalut kulit manusia.
Tiba-tiba saja, didiam kami berdua
yang lama. Di pinggir kuburan Arif yang wangi bunganya masih segar. Disenja
yang mendungnya kalah dibanding keadaannya. Dia;dinda, bersuara.
“Andai aku diberi kesempatan
sekali lagi. Tidak harus mengulang semua dari awal. Setidaknya, beberapa waktu
sebelum semua itu terjadi. Aku .. aku ..”, tiba-tiba air matanya membanjir.
Aku semakin terdiam. Hatiku
renyuh. Tangisnya terlalu menyakitkan. Seolah ada pisau tajam yang
menusuk-nusuk hatinya. Dia pegangi dadanya, seolah menahan sakit yang tak bisa
diteriakkan.
“Pernah tidak, kamu merasa
bahagia, tapi juga sakit disaat yang sama?”, tanyanya padaku sambil menatap
nisan Arif.
Aku hanya menggelengkan kepala,
entah dia meihatnya atau tidak.
“Rasanya, seperti kamu sangat
bersyukur atas ketidakberpihakan Tuhan pada apa yang kamu inginkan. Seperti
memeluk kaktus. Makin dipeluk, makin sakit. Tapi kalau dilepas, akan lebih
sakit. Akan darah yang keluar.”
Aku tetap diam. Sesakit itukah
yang dia rasakan? Tapi apa? Kenapa? Batinku mulai mengira.
“Andai aku adalah pendosa karna
jatuh cinta pada seseorang yang telah memiliki kekasih, karna jatuh cinta pada
teman sendiri. Maka, mungkin aku akan jadi penghuni neraka paling abadi. Karna
sampai saat ini, aku, masih sangat mencintainya. Bahkan semakin lebih.” Ah, aku
mulai mengerti maksudnya.
Kuberanikan diri berkata,
“Mencintai orang, tidak salah. Siapa pun orangnya, cinta akan tumbuh di mana
dia ingin. Bukan sebuah dosa jika itu untuk seseorang yang sudah tidak sendiri,
atau itu teman sendiri. Selagi cinta yang kamu miliki tetap berada dalam
jalurnya. Tidak merusak keadaan apa pun.”
“Tapi cinta itu merusakku.
Tidakkah kamu lihat? Aku seperti sekarat. Perasaan seperti ini, menyiksa”, jawabnya.
“Kalau perasaan itu tidak kamu
katakan, ya kamu akan tersiksa.”
“Iya, aku tidak mengatakannya.
Tidak sempat. Dan tidak bisa lagi”, tangisnya kembli pecah.
“Tidak ada yang tidak bisa kalau
kamu mau melakukannya”, kataku.
“Dikatakan pun, tidak akan
berguna. Dia tidak akan mendengarnya”, suaranya mengecil. Dan, aku sudah
mengerti.
“Pertama kali aku mengenalnya, aku
sudah tidak bisa menghindar. Dari senyumnya, dari hatiku. Dia bukan pangeran
yang aku impikan, tapi dia selalu jadi yang aku inginkan. Sayangnya, dia tidak
peka. Aku bersembunyi pada label ‘sahabat’ untuk bisa mencintainya diam-diam.
Peduli padanya tanpa dia tahu kalau aku benar-benar peduli. Ada yang sangat
kuat menampar wajahku, ketika tahu bahwa dia sudah punya pacar. Ah, untuk apa
perasaan ini ada kalau aku tidak memilikinya. Ditiap tawa di hadapannya, aku
selalu berusaha mengatur jantung yang berdegup membabi buta. Aku menghela nafas
cukup dalam agar semuanya kembali baik-baik saja”. Iya, aku ingat pernah
melihatnya melakukan itu. “Diakhir pekan kita liburan, aku sudah putuskan untuk
berhenti mencintainya. Perasaan ini tidak boleh diteruskan. Aku mulai tidak
peduli dan sedikit menjauh darinya. Sampai, tepat sebelum kecelakaan terjadi.
Aku mendapati telpon darinya. Kuangkat dengan helaan nafas yang jauh lebih
dalam. Suaranya di sana terdengar berisik, dia pasti sdang di jalan. Lalu, dia
berkata, ‘andai kita tidak dipertemukan sebagai sepasang teman. Andai kamu bisa
sedikit lebih peka pada perhatianku. Mungkin, yang aku antar pulang setelah
liburan ini adalah kamu. Tapi, alam tidak mendukung kita. Kita terjabak dalam
lingkaran luas yang berbatas. Aku, hanya tidak ingin menyesali ini. Aku, ini
bukan seperti, aku adalah laki-laki yang suka main hati. Tidak. Ini tentang
hatiku yang lama bersembunyi. Yang sudah lama sekali ingin berkata bahwa dia
mencintaimu. Mencintaimu lebih dari sahabat. Lebih dari kekasih. Kamu,
segalanya. Aku hanya ingin kamu mendengar ini, tak harus kamu ja.’ Tiba-tiba
suara gaduh, lalu diam. Hening”.
Aku tercekat. Tuhan, bagaimana
bisa Engkau bungkam dua hati yang sudah lama ingin saling bicara.
“Andai sedikit saja, aku diberikan
waktu. Aku ingin bilang kalau aku juga mencintainya. Sangat mencintainya.
Sangat”, rintihnya sambil memeluk diri sendiri.
Kuhamburkan peluk padanya.
Setidaknya, ini hal paling nyata yang bisa kulakukan.
“Karna Tuhan tahu, kalian adalah
pasangan yang saling mencinta dengan sungguh. Yang akan jadi pasangan paling
berbahagia. Makanya, perasaan kalian disembunyikan. Agar tidak membuat iri
orang lain. Dan Tuhan tahu, kalian akan bisa melewati ini. Tuhan sudah cukup
berbaik hati untuk membuatmu tahu bahwa, kamu tidak sedang jatuh cinta
sendirian. Percayalah, Tuhan tidak akan menjatuhkan hati di tempat yang salah.
Begitu juga pada hatimu. Entah dulu, sekarang, atau nanti”, kusuarakan
pemikiran untuk menenangkan hatinya, dan mengajari diriku sendiri.
Senja makin terbenam. Dan kami
hendak beranjak.
“Apa ada yang mau kamu katakan
padanya? Katakan saja. Walau dia tidak dengar, setidaknya hatimu akan lega
bicara”, tawarku pada dinda.
“Tidak. Aku tidak mau mengatakan
apa-apa. Arif bilang, aku tak perlu menjawab. Biar saja seperti ini. Kuintai
dia diam-diam. Sampai cinta itu hilang”. Lalu dia melangkah membelakangi makam
arif. Sahabat, yang dia cinta sebagai kekasih.
Sabtu, 09 Februari 2013
Karna aku mencintaimu
Mereka bertanya,
kenapa aku tidak mencintai orang lain saja?
Jawabannya sederhana,
karna aku mencintaimu.
kenapa aku tidak mencintai orang lain saja?
Jawabannya sederhana,
karna aku mencintaimu.
Jumat, 01 Februari 2013
Dua puluh didelapan belas
harusnya, ini diposting tanggal 18 januari kemarin. tapi apa daya, keadaan dan waktu belum memihak.
jadi, disinilah aku, diusia 20. yap, kepala dua saudara-saudari. tak pentinglah tentang apa yang aku harapkan. postingan ini aku dedikasikan untuk temen-temen yang udah ngasih kejutan yang selalu bisa bikin aku nangis.
yang pertama, makasih buat sepupu-sepupu yang aku juluki pararacun.
lanjut, di 18 januari malam, ada mysoumdesy dan anggia bersama reynnya desy yang ngasih kejutan paling nyebelin yang bikin aku nangis. tapi, makasih banget mybestiest. fyi, desy dan anggia adalah persatuan persahabatan di BKC. yang lain ada diah, indah, iga, monica yang sayang banget ada di luar kota.
dan yang terakhir, ada kejutan dan siraman rohani dalam bentuk telur dan tepung dari desy, sherly, idang, devi, oka, ivan #hufft. cekidot!!
terimakasih yang sangat teramat banyak kepada kalian semua. terimakasih karna menjadikan dua puluh ini lebih terasa tetap anak-anak. karna kalian, adalah tawaku yang paling gila. *kissmuahmuah* *hugeraterat*
Rabu, 30 Januari 2013
Selamat tinggal tidak semudah itu, sayang.
aku kehabisan jari untuk menghitung berapa malam yang sudah kulalui dengan menangisimu. kamu bilang aku harus bisa tanpamu. kamu bilang aku pasti bisa. tidak, kamu sangat salah.
kamu lupa? kita pernah saling berkata untuk tidak saling meninggalkan. sekarang apa? kamu malah memutuskan bahwa akan lebih baik jika kita tidak bersama. lalu aku bisa apa? andai selamanya kamu bisa kugenggam, meski telah berdarah sekalipun, genggamanku takkan kulepas. denganmu, aku ingin bersama lebih lama dari selamanya.
mudahkah untukmu? melupakan setiap tawa, gelisah, sedih dan segala perasaan yang sudah saling kita bagi cukup lama. siapa yang berhasil menggantikan aku? ayo biar diadu dengan cintaku, dia pasti akan kalah.
kamu tahu? aku sudah seperti mayat hidup. mengurung diri sepanjang hari, setiap hari. makan hanya jika terasa yang perih bukan cuma karna kehilanganmu, tapi juga karna maagku.
tanpamu, aku tidak bisa apa-apa. bahkan untuk jadi diri sendiri.
-----
aku sudah yakin kamu akan bagaimana setelah kita berpisah. dan aku tidak terkejut kalau ada kabar bahwa keadaanmu seperti itu.
andai maaf bisa mengembalikanmu menjadi orang yang kembali punya kehidupan, aku akan mengatakannya hingga kamu bosan mendengarnya. tapi kita sama-sama tahu, permintaan maafku hanya akan membuatmu memaksa keadaan untuk bisa seperti dulu.
aku tidak pernah lupa tentang apa saja yang pernah kita katakan, kita lakukan. tidak akan pernah. tapi, sayang, ini bukan soal apa yang kukatakan sebelumnya, ini tentang keadaan kita yang mulai tidak stabil untuk kedepannya.
kamu tahu? tiap kali ada hal yang sedikit saja menyinggung tentang kamu atau tentang kita yang dulu, ah, aku ingin teriak. aku rindu masa-masa itu denganmu. sangat rindu hingga aku berusaha menghindarinya. kamu tahu, sayang? ada hal yang seingin apapun kamu memilikinya, akan lebih baik untukmu jika kamu tidak begitu.
ini, tidak ada hubungannya dengan orang lain. cintaku masih tetap untukmu. hanya saja, keadaan tidak mengizinkan kita satu. cintamu yang terlalu besar itu bukan lagi cuma menggenggamku, sayang. dia terlalu kuat mendekap hingga aku sulit bernafas. dia terlalu mengekang hingga langkahku sering tertahan. sesuatu yang berlebihan itu tidak baik, sayang.
kamu tidak akan mengerti, mengucapkan selamat tinggal tidak semudah itu, sayang. ada kepalan besar yang menghantam dadaku ribuan kali. ada rasa sakit karna melihatmu menangis. ada kenangan yang memburuku untuk memelukmu lebih erat. ini tidak semudah kelihatannya. ini lebih sulit daripada yang kamu kira.
jadi, sayang, yang berhenti itu kisah kita, bukan hidupmu. jangan siksa dirimu dengan hal bodoh yang tidak akan membuatku kembali. jika Tuhan sudah menggariskanmu menjadi takdirku, maka sejauh apapun kita terpisah, akan selalu ada jalan untuk kembali. tapi diluar itu, biar saja kita begini, sendiri-sendiri. waktu akan menuntunmu untuk lebih dewasa menghadapi. kamu bukan tidak bisa, hanya saja ini masih terasa sulit. pun untukku.
kamu lupa? kita pernah saling berkata untuk tidak saling meninggalkan. sekarang apa? kamu malah memutuskan bahwa akan lebih baik jika kita tidak bersama. lalu aku bisa apa? andai selamanya kamu bisa kugenggam, meski telah berdarah sekalipun, genggamanku takkan kulepas. denganmu, aku ingin bersama lebih lama dari selamanya.
mudahkah untukmu? melupakan setiap tawa, gelisah, sedih dan segala perasaan yang sudah saling kita bagi cukup lama. siapa yang berhasil menggantikan aku? ayo biar diadu dengan cintaku, dia pasti akan kalah.
kamu tahu? aku sudah seperti mayat hidup. mengurung diri sepanjang hari, setiap hari. makan hanya jika terasa yang perih bukan cuma karna kehilanganmu, tapi juga karna maagku.
tanpamu, aku tidak bisa apa-apa. bahkan untuk jadi diri sendiri.
-----
aku sudah yakin kamu akan bagaimana setelah kita berpisah. dan aku tidak terkejut kalau ada kabar bahwa keadaanmu seperti itu.
andai maaf bisa mengembalikanmu menjadi orang yang kembali punya kehidupan, aku akan mengatakannya hingga kamu bosan mendengarnya. tapi kita sama-sama tahu, permintaan maafku hanya akan membuatmu memaksa keadaan untuk bisa seperti dulu.
aku tidak pernah lupa tentang apa saja yang pernah kita katakan, kita lakukan. tidak akan pernah. tapi, sayang, ini bukan soal apa yang kukatakan sebelumnya, ini tentang keadaan kita yang mulai tidak stabil untuk kedepannya.
kamu tahu? tiap kali ada hal yang sedikit saja menyinggung tentang kamu atau tentang kita yang dulu, ah, aku ingin teriak. aku rindu masa-masa itu denganmu. sangat rindu hingga aku berusaha menghindarinya. kamu tahu, sayang? ada hal yang seingin apapun kamu memilikinya, akan lebih baik untukmu jika kamu tidak begitu.
ini, tidak ada hubungannya dengan orang lain. cintaku masih tetap untukmu. hanya saja, keadaan tidak mengizinkan kita satu. cintamu yang terlalu besar itu bukan lagi cuma menggenggamku, sayang. dia terlalu kuat mendekap hingga aku sulit bernafas. dia terlalu mengekang hingga langkahku sering tertahan. sesuatu yang berlebihan itu tidak baik, sayang.
kamu tidak akan mengerti, mengucapkan selamat tinggal tidak semudah itu, sayang. ada kepalan besar yang menghantam dadaku ribuan kali. ada rasa sakit karna melihatmu menangis. ada kenangan yang memburuku untuk memelukmu lebih erat. ini tidak semudah kelihatannya. ini lebih sulit daripada yang kamu kira.
jadi, sayang, yang berhenti itu kisah kita, bukan hidupmu. jangan siksa dirimu dengan hal bodoh yang tidak akan membuatku kembali. jika Tuhan sudah menggariskanmu menjadi takdirku, maka sejauh apapun kita terpisah, akan selalu ada jalan untuk kembali. tapi diluar itu, biar saja kita begini, sendiri-sendiri. waktu akan menuntunmu untuk lebih dewasa menghadapi. kamu bukan tidak bisa, hanya saja ini masih terasa sulit. pun untukku.
Sempurna
dia tiba-tiba datang dengan sebuket bunga mawar dalam jumlah yang tak bisa kuhitung ketika pertama kali melihatnya. dia begitu wangi hingga mengalahkan bau bunga. dia punya wajah yang, ah, sampai aku tak bisa menggambarkannya dengan kata. dia berpenampilan memukau, sampai aku terpukau. dan dia berbicara panjang lebar tentang bagaimana aku kelihatannya. memuji tiap hal yang kadang menurutku itu berlebihan. dia melakukannya dengan sangat sempurna.
hingga..
kamu datang dan seluruh imajinasiku buyar. dengan bermodal tawa ramah. wangi parfum yang sejujurnya tak begitu kusuka tapi selalu kurindukan. perawakan biasa tapi terus-terusan aku ingat. bergaya seadanya, apa adanya. tidak banyak bicara tentang hal yang tidak ada, berkata untuk apa saja yang kamu mau dan menurutmu benar. kamu melakukannya dengan sangat sederhana. makanya, aku mencintaimu dengan sempurna.
hingga..
kamu datang dan seluruh imajinasiku buyar. dengan bermodal tawa ramah. wangi parfum yang sejujurnya tak begitu kusuka tapi selalu kurindukan. perawakan biasa tapi terus-terusan aku ingat. bergaya seadanya, apa adanya. tidak banyak bicara tentang hal yang tidak ada, berkata untuk apa saja yang kamu mau dan menurutmu benar. kamu melakukannya dengan sangat sederhana. makanya, aku mencintaimu dengan sempurna.
Senin, 28 Januari 2013
Selamat tinggal
"oin, selamat tinggal!"
teriak seorang gadis di depan rumahku dengan riangnya. ah, andai selamat tinggal bisa sangat semudah itu. hei, dik, nanti, ketika kamu dewasa dan mulai jatuh cinta lalu harus kehilangan, kamu baru akan mengerti bahwa, selamat tinggal tidak akan pernah seriang itu.
teriak seorang gadis di depan rumahku dengan riangnya. ah, andai selamat tinggal bisa sangat semudah itu. hei, dik, nanti, ketika kamu dewasa dan mulai jatuh cinta lalu harus kehilangan, kamu baru akan mengerti bahwa, selamat tinggal tidak akan pernah seriang itu.
Dia
lalu, kamu akan berkata ...
mandi gih, baunya sampe kesini nih!
kamu udah makan belum?
yang pasti sekarang, aku sayang kamu.
... kepada dia.
mandi gih, baunya sampe kesini nih!
kamu udah makan belum?
yang pasti sekarang, aku sayang kamu.
... kepada dia.
Kamis, 24 Januari 2013
Punya kita
biar kubuka kenangan kita satu per satu. menjelajahinya lebih dalam daripada yang telah berlalu. biar kukupas kenangan kita dengan rasa rindu yang tidak akan tersampai padamu. biar kuingat sampai bosan tiap-tiap kata yang bahkan sudah kau lupa. biar kulakukan sendiri bersama hati dan pikiranku tanpa ada yang tahu. karna ini tentang kita. dan akan cuma jadi punya kita.
Aku menulis ini ..
aku menulis ini ketika cukup yakin bahwa kamu sudah ingin pergi. bukankah itu guna firasat? bukan sebagai pencemas, tapi pertanda untuk kita harus berbuat seperti apa.
aku menulis ini, ketika langit siang sedang mendung seperti senja yang padam. hanya seperti. pun kamu dan keberadaanmu sebelumnya. hanya seperti. seperti mulikku padahal bukan. seperti bisa dipeluk tapi hanya dalam angan.
aku menulis ini tentu saja dengan fasihnya mengingatmu. pada tatap mata yang di dalamnya aku jatuh. selalu lagi dan lagi tiap kali aku mengingatnya. pada candaan hangat yang sekalipun akan hujan badai aku tidak peduli, asal bisa tertawa lepas bersama. pada kata-kata buta yang selalu bisa menemukan aku tersipu karenanya. aku mengingatmu dengan tanpa terkecuali.
aku menulis ini dengan sesenggukan dan air mata yang sudah tak bisa lagi ditahan. semakin membanjir ketika figura kita begitu nyata dalam tawa yang aku masih tidak tahu apa artinya. tidak ingin mengira-ngira tepatnya. takut aku kecewa walaupun sudah.
aku menulis ini, bukan karna takut lupa atau ingin melupa. hanya saja, kalau-kalau suatu hari tidak sengaja kamu baca, kamu akan tahu dan mungkin ingat, kalau aku ada pada bagaian hidupmu yang tak seutuhnya terjamah.
aku menulis ini, ketika langit siang sedang mendung seperti senja yang padam. hanya seperti. pun kamu dan keberadaanmu sebelumnya. hanya seperti. seperti mulikku padahal bukan. seperti bisa dipeluk tapi hanya dalam angan.
aku menulis ini tentu saja dengan fasihnya mengingatmu. pada tatap mata yang di dalamnya aku jatuh. selalu lagi dan lagi tiap kali aku mengingatnya. pada candaan hangat yang sekalipun akan hujan badai aku tidak peduli, asal bisa tertawa lepas bersama. pada kata-kata buta yang selalu bisa menemukan aku tersipu karenanya. aku mengingatmu dengan tanpa terkecuali.
aku menulis ini dengan sesenggukan dan air mata yang sudah tak bisa lagi ditahan. semakin membanjir ketika figura kita begitu nyata dalam tawa yang aku masih tidak tahu apa artinya. tidak ingin mengira-ngira tepatnya. takut aku kecewa walaupun sudah.
aku menulis ini, bukan karna takut lupa atau ingin melupa. hanya saja, kalau-kalau suatu hari tidak sengaja kamu baca, kamu akan tahu dan mungkin ingat, kalau aku ada pada bagaian hidupmu yang tak seutuhnya terjamah.
Berhenti melakukannya
hari kesekian setelah aku berkata pada diriku sendiri untuk berhenti mencintaimu. mungkin belum bisa berhenti sepenuhnya. setidaknya, aku memperlambat lajunya.
sejak kemarin, sejak kamu merubah keadaan tepatnya, aku masih suka melakukan hal-hal yang dulu biasa kita lakukan bersama. aku masih suka memikirkanmu sepanjang hari. masih persis sama seperti ketika aku rasa, kamu mulai berlarian di pikiranku. aku masih suka berangan tentang kita. masih sangat tinggi khayalannya seolah ini tidak akan jadi kenangan. aku masih suka mencarimu ketika pagi, siapa tahu aku masih mendapati lagi ucapan selamat pagi. aku masih suka mengira-ngira apa yang kamu makan siang ini, apa masih kamu makan tidak habis hanya karna kenyang tiba-tiba. aku masih suka lama-lama terjaga, siapa tahu akan ada lagi ucapan selamat tidur darimu, persis seperti malam-malam kemarin. dan aku, masih sangat suka mengingat-ingat segala hal bodoh, tiap kata yang canda, dan tatap matamu yang selalu bisa membuatku rindu tiap kali aku mengingatnya. iya, aku masih sangat suka merasakan perasaan yang lahir untukmu tanpa sengaja, yang masih persis sama seperti pertama kali aku merasakannya, persis ketika aku yakin kamu berhasil memenuhi ruang dan menghilangkan ruam dalam hatiku.
hari ini, biarkan saja aku menjadi pelari yang mengejarimu. biarkan saja aku mengucuri perhatian seolah banjir. biarkan saja kuhabiskan mengingatmu hingga dasar-dasar ingatan. besok, aku akan berhenti melakukannya.
sejak kemarin, sejak kamu merubah keadaan tepatnya, aku masih suka melakukan hal-hal yang dulu biasa kita lakukan bersama. aku masih suka memikirkanmu sepanjang hari. masih persis sama seperti ketika aku rasa, kamu mulai berlarian di pikiranku. aku masih suka berangan tentang kita. masih sangat tinggi khayalannya seolah ini tidak akan jadi kenangan. aku masih suka mencarimu ketika pagi, siapa tahu aku masih mendapati lagi ucapan selamat pagi. aku masih suka mengira-ngira apa yang kamu makan siang ini, apa masih kamu makan tidak habis hanya karna kenyang tiba-tiba. aku masih suka lama-lama terjaga, siapa tahu akan ada lagi ucapan selamat tidur darimu, persis seperti malam-malam kemarin. dan aku, masih sangat suka mengingat-ingat segala hal bodoh, tiap kata yang canda, dan tatap matamu yang selalu bisa membuatku rindu tiap kali aku mengingatnya. iya, aku masih sangat suka merasakan perasaan yang lahir untukmu tanpa sengaja, yang masih persis sama seperti pertama kali aku merasakannya, persis ketika aku yakin kamu berhasil memenuhi ruang dan menghilangkan ruam dalam hatiku.
hari ini, biarkan saja aku menjadi pelari yang mengejarimu. biarkan saja aku mengucuri perhatian seolah banjir. biarkan saja kuhabiskan mengingatmu hingga dasar-dasar ingatan. besok, aku akan berhenti melakukannya.
Langganan:
Postingan (Atom)


g%5B1%5D.jpg)



h%5B1%5D.jpg)
