Sabtu, 19 September 2015

Seperti aku

Suatu hari nanti, ketika kau pada akhirnya merasa bahwa;
Cinta saja sudah tak cukup
Rindu menunjukkan jenuhnya
Kata-kata tak lagi mampu mengatasi
Berbicara sambil menatap mata dan menggenggam tangan itu perlu
Pelukan adalah apa yang melingkar di tubuhmu

Aku hanya berharap, kau menghadapinya seperti aku.

Selasa, 15 September 2015

Cerita sore kemarin

'Sudah sekian tahun sejak hari itu, apa aku masih boleh bertanya?'

'Tanya saja, aku akan jawan sebisaku'

'Jadi, bagaimana perasaanmu sekarang?'

'Perasaanku sekarang? Perasaanku perihal apa?'

Aku menghela nafas, 'kukira kamu mengerti'

'Sudah bukan jamannya lagi peka-pekaan. Untuk apa ada mulut kalau tidak menjelaskan'

'Iya, iya. Perasaanmu terhadap dia, bagaimana?'

'Dia yang mana? Ada banyak 'dia' di dalam hidupku' jawabmu sambil tertawa.

'Mesti kusebut namanya?' Tanyaku ketus.

'Hehehe. Tidak usah. Tapi, apa tadi pertanyaannya?'

'Telinga itu ada, untuk mendengar. Ngerti?'

'Hehehe. Iya, iya'

Kuhela nafas, lagi. 'Pastinya bukan hanya aku saja yang punya pertanyaan seperti ini. Anggap saja aku adalah perwakilan dari khalayak di luar sana. Jadi, apa yang kamu rasakan ketika tahu dia akan menikah?'

'Aku sudah tahu kalau ini yang kamu dan khalayak ramai itu pertanyakan. Perasaanku waktu itu, menurutmu, jika kamu jadi aku, akan bagaimana rasanya?'

'Berhenti bertele-tele. Pernahkah pipimu dipukul pakai cangkul?'

'Hahaha. Kejam. Perasaanku waktu itu, ya, aku ikut bahagia untuknya'

'Sungguhkah?'

'Iya. Aku tahu, banyak yang akan berpikir bahwa aku akan menyesal karna pada akhirnya dia menikah lebih dulu. Tapi, mereka tidak berpikir kenapa pada akhirnya, aku mengambil keputusan untuk tak meneruskan hubungan kami'

'Kenapa tak diteruskan saja? Apa yang terjadi pada cinta kalian?'

'Belakangan aku merasa, ada yang salah dengan cara kami mencintai. Aku tak ingin membiarkan dia terjebak terlalu jauh di dalam aku yang sepertinya tak bisa jadi apa yang dia harapkan. Pastinya, aku mengambil keputusan ini dengan dipikirkan secara baik-baik. Aku tak bisa jelaskan lebih rinci. Karna, kamu tahu, lah, itu sudah termasuk privasi'

Lagi, untuk kesekian kalinya, aku menghela nafas. 'Ya, kalau memang begitu adanya. Mungkin benar itu adalah jalan yang paling baik. Jika masih denganmu, mungkin saja dia tak sebahagia sekarang' ucapku sambil tertawa.

'Hahaha, sialan kamu. Sekarang giliranku, perasaanmu sendiri, sekarang bagaimana?'

'Perasaanku? Jangan kamu cari tahu, bisa-bisa kamu tersesat dan tak tahu arah jalan pulang'

'Kalau tersesatnya di hatimu, aku mau'

Lalu tawa kita memecah senja hari ini.