Kamis, 29 Desember 2011

aku ingin jatuh cinta, lagi.

selang beberapa waktu sejak kamu pergi, aku mulai terbiasa untuk tidak jatuh cinta. awalnya, tentu saja disengaja untuk menunggumu, siapa tahu kamu akan kembali dan menemukan aku tetap dengan seutuh-utuhnya hatiku yang kamu tahu. namun, semakin kesini, ini tidak lagi tentang penantian yang semakin diikuti semakin jauh dari kembali. ini, entah karna hanya terpaku pada menunggumu, entah karna kecewa yang terlalu, atau karna sengaja tidak peduli pada yang coba mengisi. aku, terbiasa begini, sendiri, menumpulkan hati.

kita semua, aku, kamu dan semua orang yang pernah mencintai punya cerita cintanya masing-masing. ada yang tetap stabil hingga berhasil, ada yang gamang hingga tetap mengambang, ada yang harus berhenti meski ingin memiliki. pun dengan aku. cerita denganmu, boleh tidak kuingat lagi? aku.. aku ingin jatuh cinta, lagi.

tidak, aku bukan berdusta ketika bicara padamu bahwa aku mencintaimu. dulu, pernah, aku mencintai kamu. sayangnya, dulu, kamu pernah membiarkannya. jadi, cinta yang pernah aku jatuhkan untukmu itu, biar aku simpan saja dibagian lain hatiku. tidak untuk dihilangkan, hanya tidak lagi dikemukakan. akan tetap terendap sampai tidak lagi bermakna. jadi, aku ingin jatuh cinta, lagi.

aku rindu pada senyum-senyum sendiri, rindu sumringah, rindu debaran bervariasi yang aktraktif tidak menentu, rindu malu-malu, rindu gugup, rindu pada rindu, aku rindu jatuh cinta. jadi, aku ingin jatuh cinta, lagi.

Senin, 19 Desember 2011

oh, "her"

who's her? may i know?

"her". pastinya dia adalah wanita. ya, pasti. siapa dia? tahukah aku? bisakah beri tahu? aku sudah tidak lagi mencari tahu. tidak sejak kamu siratkan bahwa aku tidak lagi boleh mencari tahu. jadi, bisakah beri tahu? aku hanya ingin tahu. sebenarnya, sekaligus untuk meyakini diri bahwa aku harus benar-benar berhenti.

"her". mungkinkah wanita yang sama? atau pengalihan baru dari hatimu yang sudah membatu pada masa lalu? hatimu itu, bisakah berikan kepadaku? bisakah "her" itu aku? ah, maaf. aku terlalu memaksa. aku juga dipaksa oleh rasa.

"her". you love her and i love you but you love her. who's her? tell me, please.

smart(idiot)phone

kamu tahu? sekarang smartphone sudah tidak lagi sesmart julukannya. sekarang aku lebih suka menamainya idiotphone. tahu kenapa? tidak, bukan karna dia tidak lagi beroperasi dengan cerdas, tetapi karna dia tidak lagi digunakan seperti “biasanya”.

kamu tahu? aku juga baru tahu tentang hal ini. baru menyadari tepatnya. smartphoneku, idiotphone. tahu kenapa? aku tahu. mau aku beri tahu kenapa? kamu harus mau.

dimulai pada pagi yang (tidak) seperti biasanya. tidak ada lagi messenger yang dikirim sejak tadi malam, belum terbaca karna aku sudah lebih dulu terlelap. sekali pun ada, lebih baik tidak dibuka karna itu akan mengecewakan. lalu disiang yang melelahkan, tidak ada bebunyian yang kuharapkan agar smart(idiot)phoneku berbunyi seperti “biasanya”. *waktu itu, sekali pun hanya sebuah tanda smiley yang jujur saja sudah tandaskan rindu yang baru saja. lalu seperti “biasanya” dalam tidur siang yang gelisah, kamu tidak pernah absen untuk hadir dalam mimpiku. mungkin lantaran rindu yang tak bisa berseru*. lalu pada sore diambang senja, masih tidak ada tanda lampu yang mengisyaratkan kamu masih bersamaku (setidaknya dalam semunya kecanggihan teknologi). sekali pun lampu LED berkedap-kedip, aku bisa pastikan itu bukan kamu. boleh kupotong sebentar kelanjutannya? aku hanya ingin katakan bahawa aku merindukanmu.

lalu mulai menginjak langit gelap. pemanasan untuk pertarungan rasa rindu, gelisah, cemburu tidak pada tempatnya dan segala macam rasa yang lebih nano nano dari pada permen yang namanya juga seperti yang tersebut barusan. disini, benar-benar terasa ada perbedaan dalam alasan penggunaan yang membuat smart(idiot)phoneku ini berubah nama. dia berfungsi, berbunyi dan kadang diiringi getaran, dan lampu LED yang nyala kedap-kedip. tapi bedanya, lagi-lagi, bukan kamu yang jadi alasan itu terjadi. boleh kupotong lagi pada bagian ini? hanya untuk menekankan kembali, aku  merindukanmu. sampai pada puncaknya. penghujung malam yang “biasanya” menjadi pijakan terakhir sebelum lelap yang paling menyenangkan. sekarang, harus dibiasakan untuk tidak seperti “biasanya”. sekali pun smart(idiot)phone ini masih berfungsi sebagaimana mestinya, tapi tetap tidak dengan alasan yang sebagaimana inginnya aku. dia tidak lagi menyalakan lampu-lampu yang kutunggu-tunggu karna dari kamu. tidak juga akan berbunyi untuk panggilan-panggilan yang berasal dari kamu. tapi dengan bodohnya, aku menunggu. tidak tahu apa, hanya menunggu saja sampai aku lelah seperti “biasanya”.

lalu dalam waktu yang berlalu sedari matahari terjaga hingga bulan benderang lalu menghilang, dengan rentetan pembaruan terbaru dari kamu yang (tetap) bisa mengejut-ngejutkan jantungku setiap kali membacanya, mengamati, lalu menerka-nerka tetapi tidak bisa berkata apa-apa, apa lagi bertanya. ditambah dengan tidak lagi kucari kehadiranmu dijejaring sosial yang “biasanya” tidak pernah sedikit pun kulewati cek rutin ini agar tidak sama sekali kulewati “kehidupanmu”  (hal seperti ini terjad hingga keesokan harinya).

ini, penyebab smartphoneku tidak lagi pintar. smartphonemu, apa juga begini?

Kamis, 15 Desember 2011

#2

1. bolehkah sesekali aku jadi kamu, datang hanya disaat tertentu.
bedanya, kamu ketika bosan, aku ketika rindu.

2. aku tidur, bermimpi, kamu begitu nyata.
lalu terjaga, dan nyatanya kamu hanya mimpi.

3. ada hal-hal yang sulit dimengerti tapi harus diterima
-melepaskanmu.

4. kamu, keinginan, dan kenyataan terkadang selalu tidak sinkron.

5. ada kamu yang tidak berhenti mencintainya.
selalu aku yang tidak lelah menunggumu.

6. aku melihatmu mencintainya, mengharapkannya.
ah, aku seperti sedang berkaca.

7. aku hanya tidak pandai membaca hatimu hingga salah memahami.

8. hal biasa yang (selalu) tidak sengaja terjadi itu membuat jantung saya kedat-kedut tidak karuan.

9. bukan salahnya dia, kamu yang keliru mengartikan itu sebagai harapan.
kalau sudah begini, nikmati saja mengharapkannya.

10. salahku biarkan aku bermain dengan hatimu. semu.

Minggu, 11 Desember 2011

#1

1. disela-sela bicaranya aku terjerat, dia curhat.

2. kesadaranku masih penuh untuk berharap yang bukan-bukan pada hati yang bertuan.

3. tiba-tiba saja aku diserang penyakit jantung.
selalu, setiap ada kamu.

4. mungkin kamu merindukannya, pastinya aku merindukanmu.

5. deg-degan lalu ser-seran. jika itu jatuh cinta, apa itu kamu?

6. dear hati, kamu sudah kelewat batas. ini sudah kebablasan.

7. saya suka mencintai kamu. kamu mencintai dia.
saya (tidak) suka kamu mencintai dia.

8. aku melihat matamu, ada aku.
lebih dalam kehatimu, disini kau sembunyikan masa lalu.

ada rahasia di "occulta"


entah sudah akhir pekan keberapa aku menikmati makan siang sendirian. kali ini kuputuskan untuk makan direstoran yang cukup jauh dari tempat aku bertetap. restoran ini bernama "occulta". restoran dengan sentuhan latin tetapi menyajikan masakan khas indonesia. Aku suka ini.

tetibanya didalam aku disuguhi interior yang mengagumkan, ditambah pelayanan yang ramah. berbanding terbalik dengan keadaan pemesan lainnya, mereka masing-masing seperti punya dunia sendiri dengan jarak meja yang cukup jauh antara satu dan yang lain. tapi, peduli apa aku. toh aku sendirian, siapa juga yang peduli.

kududukkan diri dibagian sudut ruangan dengan satu meja dan dua kursi. suasana tidak begitu ramai. hanya ada aku, seorang pria yang berada sedikit serong kekanan dengan mejaku, sepasang pria dan wanita yang duduk membelakangi pria yang sedikit serong kekanan denganku dengan jarak dua meja, dan sepasang muda-mudi yang berada ditengah kami.

sembari menunggu pesanan, kuedarkan saja pandangan menyeluruhi ruangan. satu menit .. dua menit .. lima menit .. ada yang salah dengan pria yang sendirian itu pikirku. dia tidak berhenti menatap sepasang pria dan wanita yang membelakanginya. sesekali kulihat dia menyeruput minumannya tetapi tanpa melepas tatapannya. pria dan wanita itu seperti sepasang kekasih dimataku. mereka bermanja dan bercengkrama seperti tidak ada siapa-siapa disini, tetapi masih dalam tahap wajar.

kukembalikan padangan pada pria yang sendirian itu. sempat terhalang ketika sepasang muda-mudi yang duduk ditengah tadi pergi meninggalkan restoran setelah menyisakan setengah makanan dipiring mereka. nyatanya, pria yang sendirian itu masih memperhatikan pria dan wanita yang menurutku adalah sepasang kekasih itu.

suasan menjadi hening dan aku bisa mendengar tetawa manja dari wanita yang menurutku adalah sepasang kekasih dengan pria yang ada disampingnya. pria yang sendirian itu masih saja memperhatikan mereka. tak lama, pria yang bersama wanita itu mengangkat diri, sepertinya hendak pergi kebelakang. wanita itu sendiri. kepalanya mulai mengitari hingga lalu terhenti, pada pria yang duduk sendiri, yang sedari tadi memperhatikannya. kusimak, wanita itu seperti tercekat. perlahan dia giring tubuhnya kearah pria yang sedari tadi memperhatikannya. terdengar lemah dari seret kakinya, terlihat nanar dari cara pandangnya. pria yang sendiri itu pun berdiri, tersenyum. suasana tetap hening, jelas kudengar isak tangis yang tertahan dari wanita itu. samar kudengar, pria yang sedari tadi memperhatikannya itu bersuara.

“maaf sayang, ini tidak sengaaja terjadi. aku tidak mengikutimu, sungguh. aku sedang menunggu nerly bermain ditempat bermain disebrang restoran ini bersama teman-temannya. maaf sayang, aku tidak tahu kamu disini. kalau boleh, ini bukan aku mengusirmu, tapi bergegaslah pergi dari sini. sebentar lagi nerly kesini, aku tidak bisa berbohong dan tidak tahu harus beralasan apa kalau dia bertanya mamanya tertawa bersama siapa? kenapa tidak berangkulan dengan papanya? aku tidak punya cukup kata untuk menjelaskan karna aku juga belum mengerti. maaf sayang, jangan menangis, hatiku jadi teriris. kamu, pergilah ketempat lain yang lebih rahasia. kembalilah kesana, kamu tidak punya kata untuk diutarakan padanya jika kamu masih berada disni. hati-hati dijalan sayang, jangan pulang terlalu malam.”

wanita yang kukira adalah sepasang kekasih dengan pria yang tertawa bersamanya itu berbalik dengan menghapus pelan air matanya. pria yang kukira kekasihnya wanita itu pun tiba dan akhirnya mereka meninggalkan restoran. pria yang sendirian itu, duduk termangu. diwajahnya, dia mengatakan rasa sakit, kecewa, namun tetap ada cinta. tak sengaja kami berpandangan. matanya memerah, aku menundukkan wajah.

tak lama kemudian seorang gadis cilik menghamburkan sunyi dengan teriakannya. “papaaa”. pria yang sendirian itu seketika mengubah raut wajahnya, riang. lalu mereka meninggalkan ruangan ini dengan tawa riang si gadis kecil dan senyum sendu si pria yang sendirian itu. dan aku, ini seperti makan siang yang paling rahasia.

satu .. dua ..

sepertinya, kamu sudah terlalu lama beraktivitas didalam pikiranku. sepertinya, sudah waktunya untuk memberhentikanmu dengan hormat. cukup sekian berlari-lari tak tentu arah disini. kadang berlari mendekat, sesekali menjauh, diam, lalu kembali lagi. berlari lebih kencang malah.

sekarang, kamu harus berhenti. diberhentikan tepatnya. kalau-kalau bisa, jangan berhenti saja. pergi sama sekali dari sini. pikiranku bukannya jenuh, hanya letih sibuk memandangimu dan mengejar langkahmu, bukan berlari bersamamu.

baiklah, dalam hitungan ketiga, kamu harus berhenti. pergi jika bisa.

satu .. dua ..

Sabtu, 10 Desember 2011

pengujung malam kali ini

aku tidak bisa pastikan ini kali terakhir. tapi aku akan kembali mencoba untuk tidak membuat ini berulang. perlahan-lahan, selangkah hingga berlangkah-langkah, aku akan memundurkan diri. ini, pengujung malam kali ini, biarkan aku menikmati.

--

tentang kisah aku jatuh cinta. tentang kamu yang tetap saja semu. tentang hatimu yang membatu pada masa lalu. tentang waktu yang memberi jeda untuk aku bercerita, denganmu. tentang keberadaanku yang tak kunjung tentu. tentang keliru yang aku tidak ingin tahu. tentang setiap kata yang aku salah kaprah. tentang pengujung malam dihari kemarin, hari ini, dan .. apa masih akan berlanjut? tentang ini, aku tidak cukup yakin untuk bertentang.

--

terimakasih mau berbagi bersama rinduku. terimakasih untuk penegasan tentang posisimu, keberadaanku, dan kemungkinan ternyata yang tidak perlu kutunggu. terimakasih memperingatkanku untuk tidak jatuh padamu, sekalipun sudah. terimakasih memberi sejenak ruang untuk aku luapkan asa, rasa dan cinta. terimakasih untuk membiarkanku bermain sedikit lebih jauh dengan harapanku. terimakasih, kamu.

ini, pengujung malam kali ini. bolehkah aku melakukan yang seharusnya tetapi tidak mungkin dilakukan?
"aku cinta kamu, peluk cium untuk kamu".
ini, pengujung malam kali ini, biar kutunggui pulas tidurmu dan helaan nafas yang sesekali mendengkur. karna pengujung malam kali ini akan berujung

Jumat, 09 Desember 2011

berani coba?

aku ingat, kamu pernah bilang kalau kamu suka tantangan.
ini, aku punya tantangan untukmu.

maukah bertukar posisi denganku? aku jadi kamu, kamu jadi aku.
biar aku tahu apa yang harus kumengerti, dan biar kamu mengerti apa yang sudah kamu tahu.

bagaimana? berani coba?

bolehkah, Tuhan?

selamat sore, Tuhan. maaf atas kehinaanku yang menyebut namaMu. maaf, atas kerisauan yang kututurkan padaMu dalam tiap sujud tentang hal sepela yang memberi ganjalan besar pada setiap tarikan nafas dan langkah kakiku. maaf, Tuhan. aku sungguh percaya Engkau sang maha penyayang dan pemberi ampun.

aku bukan ingin mengeluh Tuhan, tapi tentu Engkau tahu apa yang hendak kujujurkan padaMu. Engkau maha mendengar lagi maha mengetahui. Engkau tentunya tahu tentang rasa yang berujung asa. dan tentang itu, Tuhan, bolehkah aku mengajukan cara? bukan ingin menyekutukanMu, tidak. tapi bukankah nasibku tidak akan berubah jika bukan aku yang mengubahnya? bolehkah, Tuhan?

tentang itu, Engkau sang empunya takdir. suratan yang Engkau tuliskan, bolehkah aku turut ambil andil didalamnya? tidak, sekali lagi bukan untuk menyekutukanMu. aku ciptaanMu, tidak akan mungkin bisa setara dengan keagunganMu. hanya saja, bolehkah, pada bagian ini aku cukup bercampur menentukannya?

Tuhan, bukan ingin melangkahi takdirMu yang telah pasti. tapi, bagaimana aku tahu dimana yang terbaik jika masih ada yang belum kusinggahi? Tuhan, bolehkah untuk yang satu ini, Engkau memberiku kesempatan untuk memutuskan sendiri ini kesempatan yang tidak akan aku lewati? bolehkah, Tuhan?

Tuhan, maaf karena kejujuranku meminta padaMu, karna aku tahu pasti, Engkaulah sang maha pemberi. bolehkah yang satu ini, sekali ini, ciptaanMu yang ini, Engkau berikan kepadaku. bolehkah, Tuhan?

Senin, 05 Desember 2011

maaf, aku menyapa kekasihmu

hai, maaf atas kelancanganku bertegur denganmu. kamu tidak kenal aku, pun denganku. tetapi ada yang aku tahu tentangmu karna aku mengenal kekasihku yang mungkin juga kekasihmu yang pastinya kamu adalah kekasihnya kekasihku itu. aku tidak akan memperkenalkan diri karna aku hanya ingin menyapa, sedikit bertanya mungkin. sudah bolehkah aku bertanya? sekalipun tidak kamu beri izin, pertanyaanku akan tetap lancang.

kamu, kekasihnya kekasihku. pasti adalah orang yang beruntung. tidak, bukan karna paras atau cemerlangnya pikiranmu, tapi ini lebih pada kepemilikanmu terhadap hati kekasihku yang tetap membatu sekalipun masa kalian telah berlalu. bagaimana rasanya dicintai kekasihku? bisakah sedikit berbagi rasa itu? mungkin-mungkin saja dengan begitu rinduku tidak kepunan. bagaimana rasanya mendapat posisi istimewa dipikiran kekasihku? terasa lelahkah berlarian dipikirannya, atau malah kamu gembira? jika lelah, aku rela berganti posisi denganmu. jika gembira, maukah berbagi kegembiraan itu denganku. biarkan aku diposisimu. bagaiamana rasanya dirindukan kekasihku? apakah kamu membuatnya menunggu, seperti yang diperbuatnya pada hatiku? aku rindu.

kekasihku itu, kamu adalah kekasihnya. kekasihmu, bisakah jangan kekasihku? karna jika tidak begitu, kalian pasti akan menjadi sepasang kekasih (lagi). lalu bagaimana denganku? dia kekasihku, aku ingin aku yang jadi kekasihnya. apa tidak boleh? apa tidak bisa? kekasihku yang mencintaimu itu, aku mencintainya.

kamu, kekasihnya kekasihku. tolong jangan  katakan bahwa aku menyapamu, apa lagi bertanya tentang kamu dan kekasihku itu. dia tidak suka hal seperti ini. jadi, jangan katakan padanya tentang tegur sapa kita, sekalipun ini hanya dalam khayalku.

kekasihku, maaf, aku menyapa kekasihmu.

yakinku, ragumu.

aku gamang
kau lantang
kau hilang
aku meradang

aku datar
kau hambar
aku pergi
kau kembali

kau tentu arah
aku ikuti langkah
kau ragu
aku sendu

aku ragu
kau jamu
aku yakin
kau berpaling

ya, yakinku, ragumu, tak pernah bertemu.

rencananya ..


Rencananya aku belum ingin jatuh cinta lagi dalam waktu dekat ini saat itu.
rencananya aku belum ingin menahan rindu nanti saat ini waktu itu.
rencananya aku belum ingin kembali bergalau malam lagi.
rencananya aku tidak punya rencana jatuh cita padamu.
rencananya Tuhan punya rencana lain berbanding terbalik dengan semua rencanaku.

Aku menyukainya, akuku jujur pada diri sendiri.
aku menyukaimu, akuku padamu didalam hati ketika ada kamu.
aku menyukaimu, jatuh cinta mungkin.

Aku jatuh cinta padamu, jauh kupendam takut itu benar.
aku jatuh cinta padamu, selalu kuhindari atau akan menjerat.
aku jatuh cinta padamu, tetap saja tak bisa berhenti barang sekali.
Aku jatuh cinta, pada orang yang tepat-menurutku, diwaktu yang tepat, dalam keadaan yang salah.
aku jatuh cinta, pada orang yang juga sedang jatuh cinta tetapi bukan padaku.
aku jatuh cinta, pada orang dengan cinta yang lebih besar dari pada yang aku punya untuk dia-kurasa, yang dia berikan untuk kekasihnya sampai-sampai dia tidak menyisakan secuil saja untukku.

Aku mencintaimu. Sulit menafsirkan. Ketulusan, kebodohan, keinginan, ke-takdir-an. Entahlah. Aku hanya tahu aku mencintaimu. Seberapa indahnya, seberapa lelahnya, seberapa mebosankannya, seberapa cemburunya tak terhingga namun terendap, seberapa pun ketidaktetapan posisiku dalam mencintaimu. Yang aku tahu, yang aku mau, mencintaimu dengan caraku walau jelas keliru dan nyaris tabu. Biar saja begini, biar saja kau tahu tanpa mengerti. Biar saja sampai aku tak bisa lagi.

Rencananya aku tidak ingin lagi mencintaimu nanti.
rencananya aku tidak ingin lagi menjadikanmu rindu kemudian.
rencananya itu tidak sekarang.

jadi tetaplah berdiri disana

Selain hanya melihatmu, aku tak tahu lagi bisa apa.
Jadi tetaplah berdiri disana.
Cukup diam saja.
Tak perlu manatap balik kearahku, apa lagi sambil sematkan senyummu.
Dan bahkan tak perlu menghampiri lamunanku, sekalipun sungguh, aku ingin menyapamu. Berbincang mungkin.

Jadi tetaplah berdiri disana, diantara mata yang dilogika kupedulikan tapi perasaanku acuh.
Tertawa saja sekalipun bukan aku sebabnya, aku menikmatinya.
Berkata saja sekalipun samar yang kudengar.
Berbahasalah tubuhmu agar aku pahami setiap gerak-geriknya.

Jadi tetaplah berdiri disana, jangan dulu beranjak.
Aku ingin melihatmu untuk waktu yang lebih lama dari waktu yang tersedia.
Mengingat setiap lekukan garis wajahmu.
Mengira-ngira wangi parfum mana yang kau miliki diantara udara dingin yang kuhirup.

Jadi tetaplah berdiri disana, jangan dulu beranjak.
Aku sedang bersiap pergi sembari menyimpan baik-baik penglihatanku hari ini.
Karna setelah berlalu, aku akan menutup mata sejenak dan membawa paksa cetakan dirimu untuk kunyatakan dalam angan dan mimpi setiap hal yang bisa kulakukan bersamamu selain hanya melihatmu.

Jadi tetaplah berdiri disana, hingga kau tak melihatku.

ya, andai saja

Akhirnya, waktu seabad yang dirangkum dalam 105 menit selesai juga. Saatnya menyegarkan otak, mengenyangkan perut dan menjernihkan mata setelah bertarung dengan kantuk, suntuk dan penjelasan panjang lebar tentang tidak dibenarkannya korupsi yang bersamaan dengan itu sangat disadari telah mengkorupsi waktu berharga yang sudah sedikit harus menjadi lebih sedikit.

Selepas terbebas dari rotasi kepenatan, kupecahkan tawa bersama teman-temanku yang bisa dibilang sedikit gila, bahkan terkadang memang gila. Dan seperti biasanya, kuedarkan pandangan nyaris keseluruh sudut kampus untuk mencari sosoknya. Terkadang sedikit terhenti karna ada saja hal-hal yang lucu untuk dijadikan bahan tertawa. Tapi, pandangan tetap fokus pada satu tujuan. Dia.

Sudah hampir setengah jalan menuju titik henti ternikmat didunia, tempat untuk mengenyangkan perut. Sepanjang langkah, aku masih belum menemukannya. Kupasati lagi satu persatu wajah yang berhamburan. Walah, this is it. Dia disana. Sedang duduk diantara wajah-wajah temannya yang sejujurnya sedikit membuatku kesal karna menghalangiku untuk leluasa memandanginya.

Kaki melangkah, mata melihat. Dan aku masih melihatnya. Begitu lucu saat dia tertawa, terdengar berat saat dia bersuara dalam kata, terlihat semakin maco ketika dia menghisap dan menghembuskan asap rokoknya. Sekian detik kemudian, kusadari bahwa pandanganku bertemu dengan tatapannya. Kuulaskan senyum dan berkata “hai .....”. Seandainya melakukan itu semudah mengedipkan mata. Yang ada, setelah tertangkap basah kuyup sedang memperhatikannya, kutundukkan wajah sambil berjalan dengan kecepatan rata-rata 80km/jam.

Aku sungguh bersyukur karna jantung ini adalah ciptaanNya. Jika tidak, maka aku adalah orang pertama yang tewas karna terjadi ledakan pada jantung. Menatapnya yang tidak sengaja melihatku, mempercepat degupan jantung yang sedang begitu tenang memperhatikannya dengan seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Andai saja yang bisa kulakukan tidak hanya sebatas memandanginya sembunyi-sembunyi. Andai saja aku punya lebih dari sedikit keberanian untuk menyapanya. Mungkin aku tidak lagi harus berandai-andai seperti yang kulakukan saat ini dan saat-saat berikutnya. Ya, andai saja.



mari kita mulai


Saat itu senja sudah mulai kalah. Bulan sejak tadi mengantri untuk unjuk gigi menghadapi dunia. Aku mengambil langkah pertama dalam kebisuan yang kunikmati sedari matahari akan tergelincir. Seperti biasa, disini terasa sepi. Aku berlalu hingga sepertinya aku melihat seseorang. Kutarik kembali satu langkah kebelakang. Kuperhatikan. Ternyata dia. Aku mengenalnya, bahkan sangat mengenalnya.

Kutatap dia dengan nanar seperti juga dia menatapku dengan jauh lebih nanar. Kubaca air wajahnya. Dia terlihat begitu sedih dan sedikit berantakan. Rambutnya kusut, matanya sembab, hidungnya memerah. Kuhela nafas untuk memulai kata, sedang dia tersedu untuk menahan tangis. Kuberi jeda agar keadaan bisa lebih ditoleransi. Lalu aku bersuara.
“apa lagi yang kamu tangisi? Sudah sekian waktu berlalu. Harusnya kamu bisa lebih tenang menghadapi ini. Jangan jadikan alasan untuk kamu salahkan atas sesuatu yang juga kamu lakukan dan pasti akan dilakukan jika kamu berada dalam hubungan seperti ini, sekalipun dengan orang yang berbeda. Itu hanya akan mendedikasikan bahwa kamu menyesali apa yang kamu pilih. Kamu yang memutuskan untuk memilih ini agar dimulai. Jika akhirnya berakhir meski kamu tidak ingin, itu adalah konsekuensi dari setiap hal yang berawal. Jangan juga menyalahkan dia atas keputusannya. Dia punya alasan melakukan itu, dan tak terlepas karna campur tanganmu. Jika sekarang dia tidak lagi sendiri, mengapa harus menangisinya selama ini. biarkan dia menghilang dengan cerita hidupnya yang sebenarnya tak perlu kamu tahu meski tetap kamu gali sendiri rasa sakitmu. Tuhan sedang memberi kesempatan pada orang lain untuk merasakan kebahagiaan yang kamu rasakan dari orang yang sama, hanya saja dalam waktu yang berbeda dan keadaan yang sudah menjadi berbeda untukmu. Tak perlu juga harus berusaha dengan tekun untuk menghapus setiap kenangan dan perasaan yang masih ada dihatimu. Biarkan semuanya tersembunyi dan terkikis sedikit demi sedikit seiring kamu belajar untuk ikhlas mencintainya. Kamu memang punya alasan untuk membuat keadaan menjadi lebih sulit, tapi bukan untuk mengenyampingkan kehidupanmu. Sulit bukan berarti tidak bisa. masih banyak sisi kehidupan lain yang membutuhkanmu selain harus berdiam dengan satu cerita lama yang sama.”

Dia tercekat. Bukan karna petuahku yang berpidato, tapi karna dia sedang menyusun kata untuk dilimpahkan. Kudengar hatinya karna dia tak mampu untuk bicara. Dia menyalahi segalanya. Takdir, waktu, keadaan, dan perasaannya sendiri. Aku tahu, bukan hanya tahu, tapi mengerti, dia begitu kecewa. Ini adalah hal pertama baginya. Ini perjuangan pertama yang dilakukannya. Sayangnya, dia harus memliki kehilangan.
“tidak ada yang salah dengan semua ini. hanya saja, terkadang kamu harus bisa mengerti bahwa tidak semua yang kamu mau, yang menurutmu benar, akan bertahan seperti apa yang kamu angankan. Ada banyak hal yang mungkin akan lebih baik jika hal itu tidak ada. Belajarlah untuk mengerti. Tidak perlu tergesa, biarkan kebahagiaannya, ketegaranmu, dan waktu membuatmu ikhlas untuk mencintainya dalam versi yang berbeda. Kamu lebih kuat dari pada yang bisa kamu upayakan. Percaya padaku.”
Kuhamburkan senyum dengan penuh keyakinan padanya. Kurasa ini berhasil. Dia sudah bisa menghapus air matanya dan berdiri dengan lebih tegap. Sepertinya dia tahu harus bersikap bagaimana.

Tanpa sadar perbincangan ini memakan senja. Sudah mulai terdengar lantunan zikir dari luar. Aku segera bergegas berbenah diri dan meninggalakn cermin yang sekarang memantulkan sebagian isi kamarku. Saatnya memulai semua dari awal.