Akhirnya, waktu seabad yang dirangkum dalam 105 menit selesai juga. Saatnya menyegarkan otak, mengenyangkan perut dan menjernihkan mata setelah bertarung dengan kantuk, suntuk dan penjelasan panjang lebar tentang tidak dibenarkannya korupsi yang bersamaan dengan itu sangat disadari telah mengkorupsi waktu berharga yang sudah sedikit harus menjadi lebih sedikit.
Selepas terbebas dari rotasi kepenatan, kupecahkan tawa bersama teman-temanku yang bisa dibilang sedikit gila, bahkan terkadang memang gila. Dan seperti biasanya, kuedarkan pandangan nyaris keseluruh sudut kampus untuk mencari sosoknya. Terkadang sedikit terhenti karna ada saja hal-hal yang lucu untuk dijadikan bahan tertawa. Tapi, pandangan tetap fokus pada satu tujuan. Dia.
Sudah hampir setengah jalan menuju titik henti ternikmat didunia, tempat untuk mengenyangkan perut. Sepanjang langkah, aku masih belum menemukannya. Kupasati lagi satu persatu wajah yang berhamburan. Walah, this is it. Dia disana. Sedang duduk diantara wajah-wajah temannya yang sejujurnya sedikit membuatku kesal karna menghalangiku untuk leluasa memandanginya.
Kaki melangkah, mata melihat. Dan aku masih melihatnya. Begitu lucu saat dia tertawa, terdengar berat saat dia bersuara dalam kata, terlihat semakin maco ketika dia menghisap dan menghembuskan asap rokoknya. Sekian detik kemudian, kusadari bahwa pandanganku bertemu dengan tatapannya. Kuulaskan senyum dan berkata “hai .....”. Seandainya melakukan itu semudah mengedipkan mata. Yang ada, setelah tertangkap basah kuyup sedang memperhatikannya, kutundukkan wajah sambil berjalan dengan kecepatan rata-rata 80km/jam.
Aku sungguh bersyukur karna jantung ini adalah ciptaanNya. Jika tidak, maka aku adalah orang pertama yang tewas karna terjadi ledakan pada jantung. Menatapnya yang tidak sengaja melihatku, mempercepat degupan jantung yang sedang begitu tenang memperhatikannya dengan seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Andai saja yang bisa kulakukan tidak hanya sebatas memandanginya sembunyi-sembunyi. Andai saja aku punya lebih dari sedikit keberanian untuk menyapanya. Mungkin aku tidak lagi harus berandai-andai seperti yang kulakukan saat ini dan saat-saat berikutnya. Ya, andai saja.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar