kamu tahu? sekarang smartphone sudah tidak lagi sesmart julukannya. sekarang aku lebih suka menamainya idiotphone. tahu kenapa? tidak, bukan karna dia tidak lagi beroperasi dengan cerdas, tetapi karna dia tidak lagi digunakan seperti “biasanya”.
kamu tahu? aku juga baru tahu tentang hal ini. baru menyadari tepatnya. smartphoneku, idiotphone. tahu kenapa? aku tahu. mau aku beri tahu kenapa? kamu harus mau.
dimulai pada pagi yang (tidak) seperti biasanya. tidak ada lagi messenger yang dikirim sejak tadi malam, belum terbaca karna aku sudah lebih dulu terlelap. sekali pun ada, lebih baik tidak dibuka karna itu akan mengecewakan. lalu disiang yang melelahkan, tidak ada bebunyian yang kuharapkan agar smart(idiot)phoneku berbunyi seperti “biasanya”. *waktu itu, sekali pun hanya sebuah tanda smiley yang jujur saja sudah tandaskan rindu yang baru saja. lalu seperti “biasanya” dalam tidur siang yang gelisah, kamu tidak pernah absen untuk hadir dalam mimpiku. mungkin lantaran rindu yang tak bisa berseru*. lalu pada sore diambang senja, masih tidak ada tanda lampu yang mengisyaratkan kamu masih bersamaku (setidaknya dalam semunya kecanggihan teknologi). sekali pun lampu LED berkedap-kedip, aku bisa pastikan itu bukan kamu. boleh kupotong sebentar kelanjutannya? aku hanya ingin katakan bahawa aku merindukanmu.
lalu mulai menginjak langit gelap. pemanasan untuk pertarungan rasa rindu, gelisah, cemburu tidak pada tempatnya dan segala macam rasa yang lebih nano nano dari pada permen yang namanya juga seperti yang tersebut barusan. disini, benar-benar terasa ada perbedaan dalam alasan penggunaan yang membuat smart(idiot)phoneku ini berubah nama. dia berfungsi, berbunyi dan kadang diiringi getaran, dan lampu LED yang nyala kedap-kedip. tapi bedanya, lagi-lagi, bukan kamu yang jadi alasan itu terjadi. boleh kupotong lagi pada bagian ini? hanya untuk menekankan kembali, aku merindukanmu. sampai pada puncaknya. penghujung malam yang “biasanya” menjadi pijakan terakhir sebelum lelap yang paling menyenangkan. sekarang, harus dibiasakan untuk tidak seperti “biasanya”. sekali pun smart(idiot)phone ini masih berfungsi sebagaimana mestinya, tapi tetap tidak dengan alasan yang sebagaimana inginnya aku. dia tidak lagi menyalakan lampu-lampu yang kutunggu-tunggu karna dari kamu. tidak juga akan berbunyi untuk panggilan-panggilan yang berasal dari kamu. tapi dengan bodohnya, aku menunggu. tidak tahu apa, hanya menunggu saja sampai aku lelah seperti “biasanya”.
lalu dalam waktu yang berlalu sedari matahari terjaga hingga bulan benderang lalu menghilang, dengan rentetan pembaruan terbaru dari kamu yang (tetap) bisa mengejut-ngejutkan jantungku setiap kali membacanya, mengamati, lalu menerka-nerka tetapi tidak bisa berkata apa-apa, apa lagi bertanya. ditambah dengan tidak lagi kucari kehadiranmu dijejaring sosial yang “biasanya” tidak pernah sedikit pun kulewati cek rutin ini agar tidak sama sekali kulewati “kehidupanmu” (hal seperti ini terjad hingga keesokan harinya).
ini, penyebab smartphoneku tidak lagi pintar. smartphonemu, apa juga begini?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar