entah sudah akhir pekan keberapa aku menikmati makan siang sendirian. kali ini kuputuskan untuk makan direstoran yang cukup jauh dari tempat aku bertetap. restoran ini bernama "occulta". restoran dengan sentuhan latin tetapi menyajikan masakan khas indonesia. Aku suka ini.
tetibanya didalam aku disuguhi interior yang mengagumkan, ditambah pelayanan yang ramah. berbanding terbalik dengan keadaan pemesan lainnya, mereka masing-masing seperti punya dunia sendiri dengan jarak meja yang cukup jauh antara satu dan yang lain. tapi, peduli apa aku. toh aku sendirian, siapa juga yang peduli.
kududukkan diri dibagian sudut ruangan dengan satu meja dan dua kursi. suasana tidak begitu ramai. hanya ada aku, seorang pria yang berada sedikit serong kekanan dengan mejaku, sepasang pria dan wanita yang duduk membelakangi pria yang sedikit serong kekanan denganku dengan jarak dua meja, dan sepasang muda-mudi yang berada ditengah kami.
sembari menunggu pesanan, kuedarkan saja pandangan menyeluruhi ruangan. satu menit .. dua menit .. lima menit .. ada yang salah dengan pria yang sendirian itu pikirku. dia tidak berhenti menatap sepasang pria dan wanita yang membelakanginya. sesekali kulihat dia menyeruput minumannya tetapi tanpa melepas tatapannya. pria dan wanita itu seperti sepasang kekasih dimataku. mereka bermanja dan bercengkrama seperti tidak ada siapa-siapa disini, tetapi masih dalam tahap wajar.
kukembalikan padangan pada pria yang sendirian itu. sempat terhalang ketika sepasang muda-mudi yang duduk ditengah tadi pergi meninggalkan restoran setelah menyisakan setengah makanan dipiring mereka. nyatanya, pria yang sendirian itu masih memperhatikan pria dan wanita yang menurutku adalah sepasang kekasih itu.
suasan menjadi hening dan aku bisa mendengar tetawa manja dari wanita yang menurutku adalah sepasang kekasih dengan pria yang ada disampingnya. pria yang sendirian itu masih saja memperhatikan mereka. tak lama, pria yang bersama wanita itu mengangkat diri, sepertinya hendak pergi kebelakang. wanita itu sendiri. kepalanya mulai mengitari hingga lalu terhenti, pada pria yang duduk sendiri, yang sedari tadi memperhatikannya. kusimak, wanita itu seperti tercekat. perlahan dia giring tubuhnya kearah pria yang sedari tadi memperhatikannya. terdengar lemah dari seret kakinya, terlihat nanar dari cara pandangnya. pria yang sendiri itu pun berdiri, tersenyum. suasana tetap hening, jelas kudengar isak tangis yang tertahan dari wanita itu. samar kudengar, pria yang sedari tadi memperhatikannya itu bersuara.
“maaf sayang, ini tidak sengaaja terjadi. aku tidak mengikutimu, sungguh. aku sedang menunggu nerly bermain ditempat bermain disebrang restoran ini bersama teman-temannya. maaf sayang, aku tidak tahu kamu disini. kalau boleh, ini bukan aku mengusirmu, tapi bergegaslah pergi dari sini. sebentar lagi nerly kesini, aku tidak bisa berbohong dan tidak tahu harus beralasan apa kalau dia bertanya mamanya tertawa bersama siapa? kenapa tidak berangkulan dengan papanya? aku tidak punya cukup kata untuk menjelaskan karna aku juga belum mengerti. maaf sayang, jangan menangis, hatiku jadi teriris. kamu, pergilah ketempat lain yang lebih rahasia. kembalilah kesana, kamu tidak punya kata untuk diutarakan padanya jika kamu masih berada disni. hati-hati dijalan sayang, jangan pulang terlalu malam.”
wanita yang kukira adalah sepasang kekasih dengan pria yang tertawa bersamanya itu berbalik dengan menghapus pelan air matanya. pria yang kukira kekasihnya wanita itu pun tiba dan akhirnya mereka meninggalkan restoran. pria yang sendirian itu, duduk termangu. diwajahnya, dia mengatakan rasa sakit, kecewa, namun tetap ada cinta. tak sengaja kami berpandangan. matanya memerah, aku menundukkan wajah.
tak lama kemudian seorang gadis cilik menghamburkan sunyi dengan teriakannya. “papaaa”. pria yang sendirian itu seketika mengubah raut wajahnya, riang. lalu mereka meninggalkan ruangan ini dengan tawa riang si gadis kecil dan senyum sendu si pria yang sendirian itu. dan aku, ini seperti makan siang yang paling rahasia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar