Senin, 05 Desember 2011

terimakasih, setidaknya ..


Dengan pasti kujejakkan kaki dijalan ini. Jalan yang sudah tidak asing lagi dimata dan ingatanku. Jalan ini, ada cerita disepanjang perjalanannya. Jalan ini, harusnya aku tidak sendiri sekarang, walau sebenarnya disini sangat ramai. Sejurus kemudian, kutarik ujung mata pada satu kursi diujung sana. Disinari jingga senja, aku melihat wajahnya samar. Tanpa sadar kukecilkan ukuran mata. Dan, benar, itu dia. Makhluk Tuhan yang sekalipun tak dihadapannya, rautnya begitu jelas dimata anganku. Itu dia, yang diwaktu itu, kubunuh waktu sepanjang hari dengan melihatnya. Itu dia.

Entah menghabiskan menit berapa lama, aku memaku ditempat kuberdiri sedari tadi. Tanpa sedikitpun gerakan yang kubuat selain tetap menatap pada sosok yang sama dan senyum yang kutandaskan entah pada siapa, karna apa dan untuk apa. Lelah berdiri, kuulangi lagi kaki melangkah menuju kursi yang tidak sama sekali kualihkan pandanganku darinya. Sejenak kuperhatikan. Berhenti dan duduk atau acuhkan saja seperti usahaku sebelumnya. Dan kali ini, aku kalah. Kutenggelamkan diri dalam duduk tepat disebelah kirinya. Wajahku tertunduk. Masih kursi yang sama, masih diatas tempat berpijak yang sama, masih dengan matahari terbenam yang sama, masih dengan angin yang terasa sama. Kasatmata, kuhirup wangi tubuhnya yang dia tinggalkan.

Tiba-tiba saja, udara yang kuhirup terasa sesak dan menghilangkan aroma tubuh yang sedang kunikmati. Seperti ada yang menghantam dadaku dengan benda keras dengan sangat keras. Lalu waktu menyeretku kesalahsatu bagian dipikiranku. Bagian yang kulawan agar tidak lagi memikirkannya. Dengan cepat, kupalingkan keadaan agar tak terseret lebih dalam. Yang terjadi kemudian, aku menggerutui hati dengan awal kalimat “seharusnya aku” disetiap kalimat yang kulontarkan. Ada yang menetes diatas tanganku. Hujankah?

Senja semakin gelap. Kuhela nafas dan legakan kesesakan tadi. Tak ada lagi yang menetes ditanganku, dan itu bukan hujan. Kutegakkan tundukkan yang sebenarnya adalah penghindaran yang akan kulakukan jika suatu hari, hari ini akan terjadi dan sekarang sedang terjadi. Kuhadapkan wajah kesamping kanan, tepat disebelah kirinya, ketika tadi dia duduk disini bersama kekasihnya yang duduk tepat ditempat yang kududuki. Dan lagi, aku melihatnya duduk disini sedang menatapku ditatapan angan mataku yang sedang menatapnya berlalu, bergandengan dengan kekasihnya disepanjang jalan yang juga pernah dan akan kutapaki. Lalu aku tersenyum dan berkata kepadanya, “terimakasih, setidaknya Tuhan masih mengizinkanku untuk mencintaimu dengan cara ini”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar