Senin, 05 Desember 2011

aku merindukanmu, lagi.


Kuputuskan untuk menyandarkan diri dikursi panjang yang tak jauh dari tempatku berdiri. Kelelahan hari ini jauh lebih lelah dari hari sebelumnya, tapi akan kalah lelah dibanding lelah dihari esok. Kupejamkan mata sejenak untuk sedikit mengurangi lelahnya dan sedikit berharap jika terbuka nanti keadaan sudah berubah.

Rasanya cukup untuk mengistirahatkan mata, saatnya kembali dari kenangan dan angan. Kubuka mata seiring helaan nafas yang datar. Tidak ada yang berubah, keadaan masih sama. Kulemparkan saja tatapan kelangit luas diatas sana. Menerawang jauh. Entah apa lagi yang aku cari, yang aku harapkan. Aku lelah, benar-benar sangat lelah. Kubuang nafas yang tak melegakan apa pun sama sekali. Perjalanan masih panjang. Jika hanya berdiam disini, sama saja membunuh harapan. Kutegakkan diri untuk segera mengambil langkah. Langkah pertama, kutundukkan wajah kebawah. Langkah kedua, kudongakkan kepala. Langkah selanjutnya, aku terhenti. Benarkah ini? tidakkah aku sedang bermimpi? Benarkah itu dia? Beberapa waktu aku memaku, mengatur nafas dan hati yang tak karuan. Kuteruskan kembali langkah yang terhenti tadi. Perlahan kutujukan arah pada sosoknya yang berdiri tegap dengan tatapan yang sudah lama kurindukan.

Dan disinilah aku sekarang, berdiri dihadapannya dengan senyum getir dalam mata yang mulai berkaca-kaca. Lalu dia hanya tersenyum dengan tanpa melepas pandangannya. Aku membuka suara. “Kamu kemana saja? Aku mencarimu sepanjang waktu. Tidakkah sekali saja, sekalipun dengan tidak sengaja untuk bisa memperlihatkan dirimu didepan mataku?” Dia tetap tersenyum, lalu berkata. “Kamu tidak melihatku, tapi bukankah aku selalu ada dihatimu?”. Aku tediam, dia benar. Dia selalu ada dihatiku. Sepanjang waktu, sepanjang aku mencarinya. “Aku mau kamu ada disampingku. Benar-benar ada untuk bisa kulihat seperti hari kemarin. Aku cuma mau kamu.” Kutinggikan nada bicara dengan sekuat tenaga menahan tangis yang sudah nyaris. Lalu tetap dengan senyumnya dia berkata, “Tuhan memeberikan yang terbaik untukmu, bukan yang kamu inginkan”. Aku pasrah, tangisku memecah. “Aku mencintaimu, tidak bisakah kamu yang ditakdirkan Tuhan untuk menjadi yang terbaik untukku? Tidak bisakah kembalikan keadaan seperti dulu? Kembalikan kamu padaku?” Sekali lagi, tetap dengan senyumnya, dia berkata. “Jika saatnya tiba dan segalanya kembali, kita bisa bersama lagi.” Sadarkah dia? Dia telah membuatku berharap lebih dari harapan yang ada. “Aku merindukanmu, benar-benar merindukanmu.” Suaraku sedikit memudar diantara tundukkan dan air mata yang meleleh tanpa sedikit pun tersendat. Belum sempat mengangkat kepala, aku sudah lebih dulu terbawa dalam pelukannya. Tangisku semakin membuyar dalam dekapannya yang erat kupegang. Samar kudengar suara diantara tangis yang kudera. Dia sedang bernyanyi. Ini lagu yang pernah kunyanyikan untuknya, saat itu dia tidak terlalu suka dengan lagu ini. Kuhentikan air mata, kunikmati bagian reff yang dinyanyikannya dengan mata terpejam dan seulas senyum lega bahagia.

Hening. Aku tak lagi mendengar apa-apa. Hanya merasakan angin yang berdesir kencang. Perlahan aku terjaga. Kudapati mataku basah dengan pipi yang terasa dingin. Aku terpaku sembari mengumpulkan jiwa yang sejenak tadi pergi. Keadaan tetap sama. Kuburu mata untuk terpejam. Siapa tahu aku bisa melihatnya lagi. Siapa tahu dia kembali. Tapi, aku tak melihat apa-apa selain gelap dan air mata yang mengalir begitu saja. Sesaat kemudian, kupaksa membuka mata, saatnya kembali menghadapi kenyataan. Lirih kusebut namanya. Aku merindukanmu, lagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar