Saat itu senja sudah mulai kalah. Bulan sejak tadi mengantri untuk unjuk gigi menghadapi dunia. Aku mengambil langkah pertama dalam kebisuan yang kunikmati sedari matahari akan tergelincir. Seperti biasa, disini terasa sepi. Aku berlalu hingga sepertinya aku melihat seseorang. Kutarik kembali satu langkah kebelakang. Kuperhatikan. Ternyata dia. Aku mengenalnya, bahkan sangat mengenalnya.
Kutatap dia dengan nanar seperti juga dia menatapku dengan jauh lebih nanar. Kubaca air wajahnya. Dia terlihat begitu sedih dan sedikit berantakan. Rambutnya kusut, matanya sembab, hidungnya memerah. Kuhela nafas untuk memulai kata, sedang dia tersedu untuk menahan tangis. Kuberi jeda agar keadaan bisa lebih ditoleransi. Lalu aku bersuara.
“apa lagi yang kamu tangisi? Sudah sekian waktu berlalu. Harusnya kamu bisa lebih tenang menghadapi ini. Jangan jadikan alasan untuk kamu salahkan atas sesuatu yang juga kamu lakukan dan pasti akan dilakukan jika kamu berada dalam hubungan seperti ini, sekalipun dengan orang yang berbeda. Itu hanya akan mendedikasikan bahwa kamu menyesali apa yang kamu pilih. Kamu yang memutuskan untuk memilih ini agar dimulai. Jika akhirnya berakhir meski kamu tidak ingin, itu adalah konsekuensi dari setiap hal yang berawal. Jangan juga menyalahkan dia atas keputusannya. Dia punya alasan melakukan itu, dan tak terlepas karna campur tanganmu. Jika sekarang dia tidak lagi sendiri, mengapa harus menangisinya selama ini. biarkan dia menghilang dengan cerita hidupnya yang sebenarnya tak perlu kamu tahu meski tetap kamu gali sendiri rasa sakitmu. Tuhan sedang memberi kesempatan pada orang lain untuk merasakan kebahagiaan yang kamu rasakan dari orang yang sama, hanya saja dalam waktu yang berbeda dan keadaan yang sudah menjadi berbeda untukmu. Tak perlu juga harus berusaha dengan tekun untuk menghapus setiap kenangan dan perasaan yang masih ada dihatimu. Biarkan semuanya tersembunyi dan terkikis sedikit demi sedikit seiring kamu belajar untuk ikhlas mencintainya. Kamu memang punya alasan untuk membuat keadaan menjadi lebih sulit, tapi bukan untuk mengenyampingkan kehidupanmu. Sulit bukan berarti tidak bisa. masih banyak sisi kehidupan lain yang membutuhkanmu selain harus berdiam dengan satu cerita lama yang sama.”
“apa lagi yang kamu tangisi? Sudah sekian waktu berlalu. Harusnya kamu bisa lebih tenang menghadapi ini. Jangan jadikan alasan untuk kamu salahkan atas sesuatu yang juga kamu lakukan dan pasti akan dilakukan jika kamu berada dalam hubungan seperti ini, sekalipun dengan orang yang berbeda. Itu hanya akan mendedikasikan bahwa kamu menyesali apa yang kamu pilih. Kamu yang memutuskan untuk memilih ini agar dimulai. Jika akhirnya berakhir meski kamu tidak ingin, itu adalah konsekuensi dari setiap hal yang berawal. Jangan juga menyalahkan dia atas keputusannya. Dia punya alasan melakukan itu, dan tak terlepas karna campur tanganmu. Jika sekarang dia tidak lagi sendiri, mengapa harus menangisinya selama ini. biarkan dia menghilang dengan cerita hidupnya yang sebenarnya tak perlu kamu tahu meski tetap kamu gali sendiri rasa sakitmu. Tuhan sedang memberi kesempatan pada orang lain untuk merasakan kebahagiaan yang kamu rasakan dari orang yang sama, hanya saja dalam waktu yang berbeda dan keadaan yang sudah menjadi berbeda untukmu. Tak perlu juga harus berusaha dengan tekun untuk menghapus setiap kenangan dan perasaan yang masih ada dihatimu. Biarkan semuanya tersembunyi dan terkikis sedikit demi sedikit seiring kamu belajar untuk ikhlas mencintainya. Kamu memang punya alasan untuk membuat keadaan menjadi lebih sulit, tapi bukan untuk mengenyampingkan kehidupanmu. Sulit bukan berarti tidak bisa. masih banyak sisi kehidupan lain yang membutuhkanmu selain harus berdiam dengan satu cerita lama yang sama.”
Dia tercekat. Bukan karna petuahku yang berpidato, tapi karna dia sedang menyusun kata untuk dilimpahkan. Kudengar hatinya karna dia tak mampu untuk bicara. Dia menyalahi segalanya. Takdir, waktu, keadaan, dan perasaannya sendiri. Aku tahu, bukan hanya tahu, tapi mengerti, dia begitu kecewa. Ini adalah hal pertama baginya. Ini perjuangan pertama yang dilakukannya. Sayangnya, dia harus memliki kehilangan.
“tidak ada yang salah dengan semua ini. hanya saja, terkadang kamu harus bisa mengerti bahwa tidak semua yang kamu mau, yang menurutmu benar, akan bertahan seperti apa yang kamu angankan. Ada banyak hal yang mungkin akan lebih baik jika hal itu tidak ada. Belajarlah untuk mengerti. Tidak perlu tergesa, biarkan kebahagiaannya, ketegaranmu, dan waktu membuatmu ikhlas untuk mencintainya dalam versi yang berbeda. Kamu lebih kuat dari pada yang bisa kamu upayakan. Percaya padaku.”
Kuhamburkan senyum dengan penuh keyakinan padanya. Kurasa ini berhasil. Dia sudah bisa menghapus air matanya dan berdiri dengan lebih tegap. Sepertinya dia tahu harus bersikap bagaimana.
“tidak ada yang salah dengan semua ini. hanya saja, terkadang kamu harus bisa mengerti bahwa tidak semua yang kamu mau, yang menurutmu benar, akan bertahan seperti apa yang kamu angankan. Ada banyak hal yang mungkin akan lebih baik jika hal itu tidak ada. Belajarlah untuk mengerti. Tidak perlu tergesa, biarkan kebahagiaannya, ketegaranmu, dan waktu membuatmu ikhlas untuk mencintainya dalam versi yang berbeda. Kamu lebih kuat dari pada yang bisa kamu upayakan. Percaya padaku.”
Kuhamburkan senyum dengan penuh keyakinan padanya. Kurasa ini berhasil. Dia sudah bisa menghapus air matanya dan berdiri dengan lebih tegap. Sepertinya dia tahu harus bersikap bagaimana.
Tanpa sadar perbincangan ini memakan senja. Sudah mulai terdengar lantunan zikir dari luar. Aku segera bergegas berbenah diri dan meninggalakn cermin yang sekarang memantulkan sebagian isi kamarku. Saatnya memulai semua dari awal.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar