Aku mulai menyangsikan bahwa peluk akan menghangatkan. Terbukti sekarang. Pertama kalinya, aku tak ingin melepaskan. Dan untuk terakhir kalinya, aku tak ingin melepaskan.
Kita terdiam. Namun waktu tak juga berhenti seperti yang kuharapkan. Detak jantung kita masing-masing terdengar. Jelas sesakku bisa kau rasa. Pelukan kita lebih erat daripada biasanya.
Kita masih diam. Dan aku sangat tahu kau mulai lelah;untuk melingkari lenganmu mendekap tubuhku. Untuk tetap berdiri, menahan agar aku tak jatuh. Untuk memberikan aku waktu memilikimu hingga detik akhir hari ini.
Aku mulai terisak. Kenangan dan angan-angan kita mulai berteriak hingga aku seperti tuli. Tak ingin mendengar bahwa kau akan berkata selamat tinggal.
Kau masih berusaha tetap memelukku. Dan aku tetap tak ingin melepaskannya. Walau nanti kita akan tetap bertemu, tapi seperti yang kita tahu, kita tak lagi adalah satu. Kau tak lagi akan mengingatku sebagai orang yang tak pernah ingin kau lupakan. Dan aku harus mulai mengingatmu sebagai orang yang harus kulupakan.
Setetes air jatuh di bahumu. Bukan karna tangisku yang sudah membanjir. Tapi karna langit mulai gerimis. Langit ikut mendung. Sepasang kekasih, dua ciptaan Tuhan dengan cinta di antara mereka, memilih berpisah karna tak sama dalam menyebut namaNya.
Kau mulai merenggangkan lengan. Memundurkan dirimu perlahan. Aku masih tetap diam. Enggan melepaskan pelukan ini. Sangat enggan melepaskanmu.
Kau beranjak pergi. Tanpa berkata apa- apa. Tanpa menatapku berlama-lama. Kita kehabisan kata. Selamat tinggal menutup segalanya.
Adakah yang lebih dingin dan menusuk daripada angin malam ini? Ada. Pelukan kita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar