hai, rin.
apa kabarmu? ah, ini sangat terasa basa-basi. tapi, aku selalu gagap
kalau berbicara denganmu, sekali pun lewat surat ini. hanya saja, aku
pandai menyembunyikannya hingga kamu tidak menyadari. hingga aku
mengatakan soal itu. aku tidak tahu kata baik seperti apa lagi untuk
meneruskan ini. bukannya tak punya kosa kata, tapi keadaanku sedang
tidak bisa berpikir tentang hal yang baik.
boleh aku bertanya? aku ini, kamu anggap apa? kamu tidak harus
menjawabnya dengan membalas surat ini atau pun mengatakannya langsung.
cukup kamu jawab sendiri untuk dirimu sendiri. itu pun jika kamu mau.
aku, hanya ingin mengatakan sesuatu. yang selama ini hanya hati dan
pikiranku yang tahu. aku tidak tahu kamu menamai hubungan kita ini apa.
kalau kamu sebut ini sahabat, maka aku adalah sahabat yang lancang karna
mencintaimu diam-diam. kalau kamu anggap ini lebih dari itu, lantas
kenapa aku selalu merasa ada batas untuk bisa memilikimu secara utuh.
apa barusan aku bilang bahwa aku mencintaimu? ah, lihat kelancanganku
barusan. tapi, aku sudah lelah menahn sendiri perasaan ini. mugnkin
memang tidak terbalas, bahkan aku tidak lagi berharap. sekali lagi, aku
hanya ingin kamu tahu, tidak lebih.
surat ini, kuselipkan di sudut jendelamu. aku ingat kamu pernah bilang,
ketika ingin melupakan seseorang, kamu akan membuang bayangnya dengan
menangis sejadi-jadinya di jendela ini. dan aku, ingin memposisikan
diriku menjadi orang itu. mungkin bukan kamu lupakan sebagai orang yang
kamu cinta, tetapi sebagai orang yang mencintaimu.
aku telah sampai di ujung muara. tempat segala ceritaku berakhir, dan ceritamu akan dimulai.
selamat untuk pernikahanmu hari ini. aku percaya, yang mendampingimu
pastilah orang yang baik. bagaimana aku bisa tahu? jawabannya sederhana,
karna dia mendampingimu, orang terbaik yang pernah dicptakan Tuhan,
bagiku. maaf aku tidak bisa datang. tidak ingin datang sebenarnya. ada
luka yang tidak bisa kusembunyikan kalau harus menjadi saksi bahwa orang
yang aku cinta, akan hidup bersama orang lain.
dari jauh, do'aku selalu bersedia memelukmu. untuk jadi pelindung walau
kamu sudah sangat terjaga. untuk menjadi penyumbang bahagia walau
bahagiamu sudah berlimpah.
ketika surat ini sudah kamu baca, jadikan aku sebagai orang yang kamu lupakan. maka dengan mudah, kamu akan kurela.
"bodoh. kenapa baru sekarang. bodoh! bagaimana bisa aku melupakanmu. bodoh!", teriakku dalam hati dengan tangis terisak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar