Dia bukan lupa caranya tersenyum.
Hanya kehilangan satu alasan untuk melakukan itu. Satu alasan itu, merupakan
segalanya baginya.
Aku pernah melihat matanya. Cukup
sering. Dan waktu itu, aku sangat ingat. Ketika aku, dia, dan beberapa teman
yang lain sedang menghabiskan akhir pekan bersama. Matanya begitu riang.
Sudut-sudut yang lancip semakin cipit ketika dia tertawa terbahak. Menurutku,
dia adalah perempuan paling riang yang pernah kutemui. Tak sekali pun selama
aku berteman dengannya, ada air mata yang menetes atau bahkan raut sedih
sedikit saja. Dia selalu bisa tertawa dan membuat yang lain juga tertawa. Tapi
yang kulihat saat ini, di hadapanku, wajahnya sendu. Matanya sembab. Bibirnya
akan semakin kering karna untuk membuka mulut saja dia tidak mau.
Ini, sudah terjadi sejak tiga hari
lalu setelah Arif meninggal dunia. Arif, adalah salah satu teman kami. Ada aku,
dia, Arif, Budi dan Reno. Arif meninggal karna kecelakaan pada akhir pekan
ketika kami menghabiskan waktu bersama. Kecelakaan itu terjadi setelah Arif
mengantar Rina;pacarnya, pulang. Waktu itu Arif juga mengikutsertakan Rina
dalam liburan.
Aku tidak mengerti ini. Tapi
dibanding Rina, dia terlihat lebih kehilangan. Aku mengira, mungkin karna dia
dan Arif sudah berteman cukup lama. Jadi kehilangannya lebih terasa.
Bukannya tidak aku berusaha
menenangkan dia. Tapi, ketika seseorang kalut, dia sama saja seperti tembok.
Hanya saja dibalut kulit manusia.
Tiba-tiba saja, didiam kami berdua
yang lama. Di pinggir kuburan Arif yang wangi bunganya masih segar. Disenja
yang mendungnya kalah dibanding keadaannya. Dia;dinda, bersuara.
“Andai aku diberi kesempatan
sekali lagi. Tidak harus mengulang semua dari awal. Setidaknya, beberapa waktu
sebelum semua itu terjadi. Aku .. aku ..”, tiba-tiba air matanya membanjir.
Aku semakin terdiam. Hatiku
renyuh. Tangisnya terlalu menyakitkan. Seolah ada pisau tajam yang
menusuk-nusuk hatinya. Dia pegangi dadanya, seolah menahan sakit yang tak bisa
diteriakkan.
“Pernah tidak, kamu merasa
bahagia, tapi juga sakit disaat yang sama?”, tanyanya padaku sambil menatap
nisan Arif.
Aku hanya menggelengkan kepala,
entah dia meihatnya atau tidak.
“Rasanya, seperti kamu sangat
bersyukur atas ketidakberpihakan Tuhan pada apa yang kamu inginkan. Seperti
memeluk kaktus. Makin dipeluk, makin sakit. Tapi kalau dilepas, akan lebih
sakit. Akan darah yang keluar.”
Aku tetap diam. Sesakit itukah
yang dia rasakan? Tapi apa? Kenapa? Batinku mulai mengira.
“Andai aku adalah pendosa karna
jatuh cinta pada seseorang yang telah memiliki kekasih, karna jatuh cinta pada
teman sendiri. Maka, mungkin aku akan jadi penghuni neraka paling abadi. Karna
sampai saat ini, aku, masih sangat mencintainya. Bahkan semakin lebih.” Ah, aku
mulai mengerti maksudnya.
Kuberanikan diri berkata,
“Mencintai orang, tidak salah. Siapa pun orangnya, cinta akan tumbuh di mana
dia ingin. Bukan sebuah dosa jika itu untuk seseorang yang sudah tidak sendiri,
atau itu teman sendiri. Selagi cinta yang kamu miliki tetap berada dalam
jalurnya. Tidak merusak keadaan apa pun.”
“Tapi cinta itu merusakku.
Tidakkah kamu lihat? Aku seperti sekarat. Perasaan seperti ini, menyiksa”, jawabnya.
“Kalau perasaan itu tidak kamu
katakan, ya kamu akan tersiksa.”
“Iya, aku tidak mengatakannya.
Tidak sempat. Dan tidak bisa lagi”, tangisnya kembli pecah.
“Tidak ada yang tidak bisa kalau
kamu mau melakukannya”, kataku.
“Dikatakan pun, tidak akan
berguna. Dia tidak akan mendengarnya”, suaranya mengecil. Dan, aku sudah
mengerti.
“Pertama kali aku mengenalnya, aku
sudah tidak bisa menghindar. Dari senyumnya, dari hatiku. Dia bukan pangeran
yang aku impikan, tapi dia selalu jadi yang aku inginkan. Sayangnya, dia tidak
peka. Aku bersembunyi pada label ‘sahabat’ untuk bisa mencintainya diam-diam.
Peduli padanya tanpa dia tahu kalau aku benar-benar peduli. Ada yang sangat
kuat menampar wajahku, ketika tahu bahwa dia sudah punya pacar. Ah, untuk apa
perasaan ini ada kalau aku tidak memilikinya. Ditiap tawa di hadapannya, aku
selalu berusaha mengatur jantung yang berdegup membabi buta. Aku menghela nafas
cukup dalam agar semuanya kembali baik-baik saja”. Iya, aku ingat pernah
melihatnya melakukan itu. “Diakhir pekan kita liburan, aku sudah putuskan untuk
berhenti mencintainya. Perasaan ini tidak boleh diteruskan. Aku mulai tidak
peduli dan sedikit menjauh darinya. Sampai, tepat sebelum kecelakaan terjadi.
Aku mendapati telpon darinya. Kuangkat dengan helaan nafas yang jauh lebih
dalam. Suaranya di sana terdengar berisik, dia pasti sdang di jalan. Lalu, dia
berkata, ‘andai kita tidak dipertemukan sebagai sepasang teman. Andai kamu bisa
sedikit lebih peka pada perhatianku. Mungkin, yang aku antar pulang setelah
liburan ini adalah kamu. Tapi, alam tidak mendukung kita. Kita terjabak dalam
lingkaran luas yang berbatas. Aku, hanya tidak ingin menyesali ini. Aku, ini
bukan seperti, aku adalah laki-laki yang suka main hati. Tidak. Ini tentang
hatiku yang lama bersembunyi. Yang sudah lama sekali ingin berkata bahwa dia
mencintaimu. Mencintaimu lebih dari sahabat. Lebih dari kekasih. Kamu,
segalanya. Aku hanya ingin kamu mendengar ini, tak harus kamu ja.’ Tiba-tiba
suara gaduh, lalu diam. Hening”.
Aku tercekat. Tuhan, bagaimana
bisa Engkau bungkam dua hati yang sudah lama ingin saling bicara.
“Andai sedikit saja, aku diberikan
waktu. Aku ingin bilang kalau aku juga mencintainya. Sangat mencintainya.
Sangat”, rintihnya sambil memeluk diri sendiri.
Kuhamburkan peluk padanya.
Setidaknya, ini hal paling nyata yang bisa kulakukan.
“Karna Tuhan tahu, kalian adalah
pasangan yang saling mencinta dengan sungguh. Yang akan jadi pasangan paling
berbahagia. Makanya, perasaan kalian disembunyikan. Agar tidak membuat iri
orang lain. Dan Tuhan tahu, kalian akan bisa melewati ini. Tuhan sudah cukup
berbaik hati untuk membuatmu tahu bahwa, kamu tidak sedang jatuh cinta
sendirian. Percayalah, Tuhan tidak akan menjatuhkan hati di tempat yang salah.
Begitu juga pada hatimu. Entah dulu, sekarang, atau nanti”, kusuarakan
pemikiran untuk menenangkan hatinya, dan mengajari diriku sendiri.
Senja makin terbenam. Dan kami
hendak beranjak.
“Apa ada yang mau kamu katakan
padanya? Katakan saja. Walau dia tidak dengar, setidaknya hatimu akan lega
bicara”, tawarku pada dinda.
“Tidak. Aku tidak mau mengatakan
apa-apa. Arif bilang, aku tak perlu menjawab. Biar saja seperti ini. Kuintai
dia diam-diam. Sampai cinta itu hilang”. Lalu dia melangkah membelakangi makam
arif. Sahabat, yang dia cinta sebagai kekasih.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar