Jumat, 22 Februari 2013

Diam


Dia bukan lupa caranya tersenyum. Hanya kehilangan satu alasan untuk melakukan itu. Satu alasan itu, merupakan segalanya baginya.
Aku pernah melihat matanya. Cukup sering. Dan waktu itu, aku sangat ingat. Ketika aku, dia, dan beberapa teman yang lain sedang menghabiskan akhir pekan bersama. Matanya begitu riang. Sudut-sudut yang lancip semakin cipit ketika dia tertawa terbahak. Menurutku, dia adalah perempuan paling riang yang pernah kutemui. Tak sekali pun selama aku berteman dengannya, ada air mata yang menetes atau bahkan raut sedih sedikit saja. Dia selalu bisa tertawa dan membuat yang lain juga tertawa. Tapi yang kulihat saat ini, di hadapanku, wajahnya sendu. Matanya sembab. Bibirnya akan semakin kering karna untuk membuka mulut saja dia tidak mau.
Ini, sudah terjadi sejak tiga hari lalu setelah Arif meninggal dunia. Arif, adalah salah satu teman kami. Ada aku, dia, Arif, Budi dan Reno. Arif meninggal karna kecelakaan pada akhir pekan ketika kami menghabiskan waktu bersama. Kecelakaan itu terjadi setelah Arif mengantar Rina;pacarnya, pulang. Waktu itu Arif juga mengikutsertakan Rina dalam liburan.
Aku tidak mengerti ini. Tapi dibanding Rina, dia terlihat lebih kehilangan. Aku mengira, mungkin karna dia dan Arif sudah berteman cukup lama. Jadi kehilangannya lebih terasa.
Bukannya tidak aku berusaha menenangkan dia. Tapi, ketika seseorang kalut, dia sama saja seperti tembok. Hanya saja dibalut kulit manusia.
Tiba-tiba saja, didiam kami berdua yang lama. Di pinggir kuburan Arif yang wangi bunganya masih segar. Disenja yang mendungnya kalah dibanding keadaannya. Dia;dinda, bersuara.
“Andai aku diberi kesempatan sekali lagi. Tidak harus mengulang semua dari awal. Setidaknya, beberapa waktu sebelum semua itu terjadi. Aku .. aku ..”, tiba-tiba air matanya membanjir.
Aku semakin terdiam. Hatiku renyuh. Tangisnya terlalu menyakitkan. Seolah ada pisau tajam yang menusuk-nusuk hatinya. Dia pegangi dadanya, seolah menahan sakit yang tak bisa diteriakkan.
“Pernah tidak, kamu merasa bahagia, tapi juga sakit disaat yang sama?”, tanyanya padaku sambil menatap nisan Arif.
Aku hanya menggelengkan kepala, entah dia meihatnya atau tidak.
“Rasanya, seperti kamu sangat bersyukur atas ketidakberpihakan Tuhan pada apa yang kamu inginkan. Seperti memeluk kaktus. Makin dipeluk, makin sakit. Tapi kalau dilepas, akan lebih sakit. Akan darah yang keluar.”
Aku tetap diam. Sesakit itukah yang dia rasakan? Tapi apa? Kenapa? Batinku mulai mengira.
“Andai aku adalah pendosa karna jatuh cinta pada seseorang yang telah memiliki kekasih, karna jatuh cinta pada teman sendiri. Maka, mungkin aku akan jadi penghuni neraka paling abadi. Karna sampai saat ini, aku, masih sangat mencintainya. Bahkan semakin lebih.” Ah, aku mulai mengerti maksudnya.
Kuberanikan diri berkata, “Mencintai orang, tidak salah. Siapa pun orangnya, cinta akan tumbuh di mana dia ingin. Bukan sebuah dosa jika itu untuk seseorang yang sudah tidak sendiri, atau itu teman sendiri. Selagi cinta yang kamu miliki tetap berada dalam jalurnya. Tidak merusak keadaan apa pun.”
“Tapi cinta itu merusakku. Tidakkah kamu lihat? Aku seperti sekarat. Perasaan seperti ini, menyiksa”, jawabnya.
“Kalau perasaan itu tidak kamu katakan, ya kamu akan tersiksa.”
“Iya, aku tidak mengatakannya. Tidak sempat. Dan tidak bisa lagi”, tangisnya kembli pecah.
“Tidak ada yang tidak bisa kalau kamu mau melakukannya”, kataku.
“Dikatakan pun, tidak akan berguna. Dia tidak akan mendengarnya”, suaranya mengecil. Dan, aku sudah mengerti.
“Pertama kali aku mengenalnya, aku sudah tidak bisa menghindar. Dari senyumnya, dari hatiku. Dia bukan pangeran yang aku impikan, tapi dia selalu jadi yang aku inginkan. Sayangnya, dia tidak peka. Aku bersembunyi pada label ‘sahabat’ untuk bisa mencintainya diam-diam. Peduli padanya tanpa dia tahu kalau aku benar-benar peduli. Ada yang sangat kuat menampar wajahku, ketika tahu bahwa dia sudah punya pacar. Ah, untuk apa perasaan ini ada kalau aku tidak memilikinya. Ditiap tawa di hadapannya, aku selalu berusaha mengatur jantung yang berdegup membabi buta. Aku menghela nafas cukup dalam agar semuanya kembali baik-baik saja”. Iya, aku ingat pernah melihatnya melakukan itu. “Diakhir pekan kita liburan, aku sudah putuskan untuk berhenti mencintainya. Perasaan ini tidak boleh diteruskan. Aku mulai tidak peduli dan sedikit menjauh darinya. Sampai, tepat sebelum kecelakaan terjadi. Aku mendapati telpon darinya. Kuangkat dengan helaan nafas yang jauh lebih dalam. Suaranya di sana terdengar berisik, dia pasti sdang di jalan. Lalu, dia berkata, ‘andai kita tidak dipertemukan sebagai sepasang teman. Andai kamu bisa sedikit lebih peka pada perhatianku. Mungkin, yang aku antar pulang setelah liburan ini adalah kamu. Tapi, alam tidak mendukung kita. Kita terjabak dalam lingkaran luas yang berbatas. Aku, hanya tidak ingin menyesali ini. Aku, ini bukan seperti, aku adalah laki-laki yang suka main hati. Tidak. Ini tentang hatiku yang lama bersembunyi. Yang sudah lama sekali ingin berkata bahwa dia mencintaimu. Mencintaimu lebih dari sahabat. Lebih dari kekasih. Kamu, segalanya. Aku hanya ingin kamu mendengar ini, tak harus kamu ja.’ Tiba-tiba suara gaduh, lalu diam. Hening”.
Aku tercekat. Tuhan, bagaimana bisa Engkau bungkam dua hati yang sudah lama ingin saling bicara.
“Andai sedikit saja, aku diberikan waktu. Aku ingin bilang kalau aku juga mencintainya. Sangat mencintainya. Sangat”, rintihnya sambil memeluk diri sendiri.
Kuhamburkan peluk padanya. Setidaknya, ini hal paling nyata yang bisa kulakukan.
“Karna Tuhan tahu, kalian adalah pasangan yang saling mencinta dengan sungguh. Yang akan jadi pasangan paling berbahagia. Makanya, perasaan kalian disembunyikan. Agar tidak membuat iri orang lain. Dan Tuhan tahu, kalian akan bisa melewati ini. Tuhan sudah cukup berbaik hati untuk membuatmu tahu bahwa, kamu tidak sedang jatuh cinta sendirian. Percayalah, Tuhan tidak akan menjatuhkan hati di tempat yang salah. Begitu juga pada hatimu. Entah dulu, sekarang, atau nanti”, kusuarakan pemikiran untuk menenangkan hatinya, dan mengajari diriku sendiri.
Senja makin terbenam. Dan kami hendak beranjak.
“Apa ada yang mau kamu katakan padanya? Katakan saja. Walau dia tidak dengar, setidaknya hatimu akan lega bicara”, tawarku pada dinda.
“Tidak. Aku tidak mau mengatakan apa-apa. Arif bilang, aku tak perlu menjawab. Biar saja seperti ini. Kuintai dia diam-diam. Sampai cinta itu hilang”. Lalu dia melangkah membelakangi makam arif. Sahabat, yang dia cinta sebagai kekasih.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar