Jalan di luar begitu ramai. Klakson tanda tak sabar berteriak dari ujung jalan sana hingga jalan sini. Suara-suara orang lain di dalam cafe ini pun tak kalah bisingnya. Tapi kurasa, kami tuli terhadap mereka. Yang lebih jelas terdengar hanya detik pada jam tangan masing-masing. Juga angin yang sesekali bertiup dan menggoyangkan rambutnya.
Aku menatapnya tanpa lepas. Dia hanya tertunduk tanpa mengucap apa pun. Andai kami adalah dua yang bisu, keadaan takkan jadi semenyesakkan ini.
Aku menghela nafas, dia masih juga diam. Ada banyak sekali pertanyaan yang mendesak ingin keluar dari kepalaku. Tapi sungguh, aku tak ingin jadi si pemaksa yang tak dia suka.
"Adakah yang ingin kamu katakan?", tanyaku dengan tenang seolah keadaan baik-baik saja.
***
Suasana tak seperti biasanya. Seramai apa pun di sini, aku merasa hanya berdua dengannya. Bukan karna kami sedang jatuh cinta, tapi ada yang tak lagi sama dalam cara kami mencintai. Entah hanya jenuh atau telah hilang sama sekali. Aku ragu pada diri sendiri. Ragu untuk berani menatap matanya.
Aku tak juga mengangkat wajah meski tahu dia berusaha sembunyikan gelisahnya. Karna jika melihat matanya, aku akan sadar betapa salahnya aku. Betapa aku tak bisa jadi yang terbaik untuknya.
Aku tetap menundukkan wajah. Tak siap menjawab pertanyaan-pertanyaan yang, aku yakin, sudah memenuhi isi kepalanya.
"Adakah yang ingin kamu katakan?", tanyanya dengan nada bicara paling tenang.
Aku menarik nafas dalam-dalam. Bibirku bergetar. Sulit menjujurkan ini padanya. Tapi akan lebih sulit bagi kami jika aku terus berbohong.
"Apa pun yang terjadi setelah ini, percayalah, kamu nggak ngelakuin kesalahan apa pun. Kamu nggak pernah bikin aku kecewa. Kami baik. Malah sangat". Jawabku dengan memberanikan diri menatap matanya. "Maafkan aku. Entah sejak kapan, tapi yang terasa di hatiku sudah nggak sama seperti pertama kita memulai ini. Jangan tanya alasannya, aku bahkan nggak tau kenapa ini terjadi. Maafkan aku". Mataku mendung.
***
Kalimat pertamanya membuatku makin bertanya. Benarkah yang kutanyakan selama ini pada diriku sendiri? Bahwa tak ada lagi cinta di antara kami. Bahwa tak ada lagi cinta di hatinya.
Dia terus bicara. Aku sudah tak ingin dengar penjelasannya. Andai bisa pergi dari sini sekarang, aku akan berlari dan berteriak di luar sana. Entah untuk apa, tapi rasa sakit ini tak bisa kutahan sendiri.
"Jangan minta maaf", batinku. Semakin sakit ketika tahu bahwa benar, dia telah menghilangkannya. Segala yang kami mulai dari awal.
Matanya berkaca-kaca. Aku tahu tak hanya aku yang merasakan sakit di sini. Tapi jika saja dia tahu, aku tak hanya sakit, tapi hancur.
"Kalau menurutmu ini yang terbaik untuk kita, untuk kamu, apa pun yang terjadi setelah ini, aku akan jadi orang yang selalu bisa kamu andalkan". Ucapku tanpa emosi sama sekali. "Kalau begitu aku pulang duluan, ya. Kamu hati-hati di jalan". Aku berjalan meninggalkannya yang duduk mematung.
***
Aku benci perasaan seperti ini. Aku jahat. Tapi tak lebih baik jika ini diteruskan.
Dia selalu saja sabar, bahkan dapat dengan tenang menahan rasa sakitnya. Aku ingin menangis, andai aku tak tahu malu. Dia beranjak pergi. Punggungnya meninggalkanku yang masih mematung karna semua berakhir begitu cepat. Secepat cinta ini hilang tanpa aku sempat menyadari, agar dapat memperbaikinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar