Sabtu, 07 Juni 2014

Senja kita

Senja tak pernah kehabisan akal untuk menghias wajahnya. Mulai dari jingganya yang selalu kita kagumi, hingga mendungnya yang syahdu. Dari tempatku berdiri, senja begitu menawan. Namun di ujung sana terlihat awan gelap yang perlahan menuju kemari. Bagaimana di tempatmu, samakah? Atau malah hujan sudah datang lebih dulu.

Aku menarik nafas dalam-dalam. Udara sore ini begitu sejuk. Entah dari mana ia datang dan entah ia akan melewati arah mana. Hanya jika udara ini melewatimu, rasakanlah;kuucap rindu begitu lantang di dalam hati sambil menghembuskan nafas untuk melegakan diri.

Jingga mulai gelap, awan yang berada di ujung tadi sudah menutupi matahari yang tinggal sepenggal. Bagaimana di kotamu?

Perlahan kututup mata. Sunyi ini semakin menjelaskan betapa nyata raut wajahmu dalam gelap yang tetap bisa kulihat.

Pipiku terasa dingin oleh tetesan air. Aku lantas tersenyum. Hujan turun, kukira. Padahal, mataku sudah membanjir. Hatiku tak sanggup menahan rindu ini sendiri.

Dengan atau tanpa kita, semoga kau dan aku selalu bahagia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar